Terbaru
light_mode
Beranda » Warta » Hari Santri 2026 » Gus Rijal Mumazziq Ungkap Makna Tradisi NU, dari ISHARI hingga Kearifan Menyelesaikan Konflik

Gus Rijal Mumazziq Ungkap Makna Tradisi NU, dari ISHARI hingga Kearifan Menyelesaikan Konflik

  • account_circle M Rizal Wahyudi
  • calendar_month Minggu, 25 Okt 2026
  • visibility 84
  • print Cetak

PROBOLINGGO –   Tradisi Nahdlatul Ulama (NU) tidak sekadar menjadi rangkaian seremonial, tetapi mengandung nilai keagamaan, kebangsaan, dan kearifan sosial. Hal itu disampaikan Gus Rijal Mumazziq saat mengisi ceramah dalam Resepsi Hari Santri, Haul Masyayikh, dan Doa Bersama untuk Palestina yang diselenggarakan PCNU Kota Probolinggo di Masjid Agung Raudlatul Jannah, Sabtu (24/10/2026).

Dalam ceramahnya, Gus Rijal menjelaskan sejumlah kekhasan NU, mulai dari kecintaan kepada Rasulullah SAW melalui Ikatan Seni Hadrah Indonesia (ISHARI), makna rangkaian acara keagamaan, hingga falsafah Jawa “piye enake, piye apike” dalam menyelesaikan konflik.

Menurutnya, ISHARI bukan sekadar komunitas seni hadrah, melainkan wadah untuk mengekspresikan kecintaan kepada Rasulullah SAW.

“ISHARI, menurut kesaksian saya, adalah perindu Rasulullah. Komunitas ini ikhlas hadir dengan segala keterbatasannya, tetapi keterbatasan itu tidak menghalangi semangatnya. Karena hal-hal itulah cinta saya tertambat,” ungkapnya.

Ia mengaku hampir tidak pernah meninggalkan ISHARI dalam berbagai peringatan keagamaan di lingkungannya. Baginya, semangat dan ketulusan para anggota menjadi bagian penting dalam menjaga tradisi selawat di tengah masyarakat.

Gus Rijal juga menyampaikan penghormatan kepada badan otonom NU, yakni Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU), Fatayat NU, dan Muslimat NU. Ketiganya dinilai memiliki peran penting dalam kaderisasi, pendidikan generasi, dan keberlanjutan perjuangan NU.

Ia mengingatkan jamaah agar menghormati peran kaum perempuan, khususnya para ibu yang turut menjaga tradisi keagamaan dan mendidik generasi penerus.

“Sering-seringlah memohon doa kepada para Muslimat,” pesannya.

Gus Rijal menjelaskan, rangkaian acara keagamaan NU yang meliputi tawasul, pembacaan Al-Qur’an, selawat, lagu Indonesia Raya, Mars Yalal Wathan, istigasah, dan tahlil bukan sekadar formalitas.

“Bagi orang yang tidak memahami maknanya, ini kadang dianggap terlalu panjang atau sekadar seremonial. Padahal, setiap bagian memiliki nilai dan pesan tersendiri,” jelasnya.

Ia menerangkan bahwa tawasul merupakan bentuk penghormatan kepada para guru dan ulama sekaligus ikhtiar menjaga kesinambungan sanad keilmuan. Pembacaan Al-Qur’an menegaskan kedudukannya sebagai pedoman hidup, sedangkan selawat menjadi ungkapan kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Sementara itu, penyandingan lagu Indonesia Raya dengan Mars Yalal Wathan mencerminkan tanggung jawab NU dalam menjaga keislaman dan keindonesiaan.

“NU memanggul dua tanggung jawab, keislaman dan keindonesiaan, keagamaan dan kebangsaan,” tuturnya.

Adapun istigasah dan tahlil mencerminkan sikap raja’, yakni pengharapan seorang hamba terhadap rahmat dan ampunan Allah SWT.

Selain menjelaskan tradisi keagamaan, Gus Rijal mengangkat ungkapan Jawa “piye enake, piye apike” sebagai kearifan dalam menyelesaikan persoalan di tengah masyarakat.

Ia menjelaskan, piye enake mengandung ajakan untuk melunakkan ego dan bersedia menerima pihak lain. Menurutnya, setiap orang memiliki kepentingan dan pandangan masing-masing sehingga penyelesaian konflik membutuhkan kesediaan untuk mendengarkan dan memahami perbedaan.

“Melunakkan ego bukan berarti kehilangan prinsip, melainkan membuka ruang agar perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan,” jelasnya.

Adapun piye apike berarti mencari jalan terbaik setelah masing-masing pihak bersedia meredam ego. Pada tahap ini, penyelesaian diarahkan pada pencarian kesepakatan yang mempertimbangkan kepentingan bersama.

Menurut Gus Rijal, pendekatan tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan organisasi, keluarga, maupun masyarakat. Konflik tidak cukup diselesaikan dengan menentukan pihak yang menang atau kalah, tetapi perlu diikuti upaya memulihkan hubungan dan menjaga persaudaraan.

Ia mengajak warga NU merawat kearifan tersebut sebagai bagian dari warisan leluhur. Dengan mengedepankan dialog, kerendahan hati, dan kesediaan mencari solusi bersama, perbedaan diharapkan tidak menjadi penghalang dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis.

  • Penulis: M Rizal Wahyudi
  • Editor: Moch. Putra Vikry Romadhoni

Rekomendasi Untuk Anda

  • Cetak Pendekar Beradab dan Berprestasi, MI KAHASRI Probolinggo Borong 16 Medali di Wali Kota Cup XI 2026

    Cetak Pendekar Beradab dan Berprestasi, MI KAHASRI Probolinggo Borong 16 Medali di Wali Kota Cup XI 2026

    • calendar_month Senin, 28 Sep 2026
    • account_circle Ulil Hadi Ernanda P
    • visibility 151
    • 0Komentar

    PROBOLINGGO, kabar membanggakan datang dari kalangan Nahdliyin Kota Probolinggo. Kontingen atlet cilik dari Madrasah Ibtidaiyah (MI) KAHASRI sukses memborong 16 medali dalam kejuaraan Wali Kota Cup XI 2026 yang digelar di GOR Mastrip, Probolinggo (26–27/9/2026). Prestasi gemilang tersebut diraih melalui cabang olahraga Pencak Silat Wali Kota Cup XI 2026. Para siswa MI KAHASRI tampil dominan […]

  • Inspiratif ! Pemuda Probolinggo Ini Sukses Bisnis Tempe Sambil Berkhidmat di NU

    Inspiratif ! Pemuda Probolinggo Ini Sukses Bisnis Tempe Sambil Berkhidmat di NU

    • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
    • account_circle Ulil Hadi Ernanda P
    • visibility 344
    • 0Komentar

    Probolinggo, Tempe merupakan makanan pokok yang selalu hadir di setiap meja makan. Baik ketika makan bersama keluarga dirumah atau ketika berada di warung bahkan restoran sekalipun. Salah satunya tempe yang di produksi oleh mas mukhtar ali warga kelurahan sumber taman dan juga dikenal dengan aktivis ansor. Berbekal dari usaha yang diwariskan oleh orang tuanya pria 28 […]

  • Berpulang dalam Keadaan Suci, Ketua JQHNU Kota Probolinggo KH Abdul Aziz RM Wafat

    Berpulang dalam Keadaan Suci, Ketua JQHNU Kota Probolinggo KH Abdul Aziz RM Wafat

    • calendar_month Selasa, 22 Sep 2026
    • account_circle Ulil Hadi Ernanda P
    • visibility 133
    • 0Komentar

    PROBOLINGGO, — Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Kabar duka kembali menyelimuti warga Nahdliyin Kota Probolinggo. Ketua Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffazh Nahdlatul Ulama (JQHNU) Kota Probolinggo, KH Abdul Aziz RM, menghembuskan napas terakhirnya pada Senin malam sekitar pukul 22.00 WIB. Pengasuh Pondok Pesantren Assanusiyah, Kelurahan Kareng Lor, Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo tersebut dikenal luas oleh jamaah […]

  • Reposisi Identitas di Ruang Kolektif: PK PMII Djoyolelono V Resmi Dilantik, Teguhkan Komitmen sebagai Mitra Kritis dan Strategis Pemerintah

    Reposisi Identitas di Ruang Kolektif: PK PMII Djoyolelono V Resmi Dilantik, Teguhkan Komitmen sebagai Mitra Kritis dan Strategis Pemerintah

    • calendar_month Sabtu, 18 Jul 2026
    • account_circle Anas Fathullah
    • visibility 216
    • 0Komentar

    Probolinggo, Pengurus Komisariat (PK) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Djoyolelono ke-V resmi dilantik di Pendopo Prasaja Ngesti Wibawa, Kabupaten Probolinggo. (18/Juli/2026) Dengan mengusung tema “Reposisi Identitas di Ruang Kolektif”, pelantikan tersebut menjadi momentum sakral untuk meneguhkan kembali arah gerak organisasi dalam memperkuat kaderisasi, merawat tradisi intelektual, serta memperkokoh peran PMII sebagai mitra kritis sekaligus mitra […]

  • Jalan Sehat Bersarung PCNU Kota Probolinggo Siapkan Hadiah Umrah

    Jalan Sehat Bersarung PCNU Kota Probolinggo Siapkan Hadiah Umrah

    • calendar_month Kamis, 15 Okt 2026
    • account_circle Anas Fathullah
    • visibility 179
    • 0Komentar

    PROBOLINGGO – Sarungan sambil berolahraga, pulang membawa hadiah. Semangat inilah yang bakal mewarnai Jalan Sehat Bersarung yang digelar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Probolinggo dalam rangka menyemarakkan Hari Santri Nasional (HSN) 2026. Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (17/10/2026), mulai pukul 06.00 WIB. Titik start dan finis berada di depan Masjid Agung Raudlatul Jannah, Kota […]

  • KH Abdur Rozaq Wafat, Ketua PCNU Ajak Kader Teladani Spirit Perjuangan Almarhum

    KH Abdur Rozaq Wafat, Ketua PCNU Ajak Kader Teladani Spirit Perjuangan Almarhum

    • calendar_month Jumat, 10 Jul 2026
    • account_circle M Rizal Wahyudi
    • visibility 370
    • 0Komentar

    PROBOLINGGO – Wafatnya KH Abdur Rozaq memantik rasa duka yang mendalam tidak hanya di tingkat kecamatan, tetapi juga di jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU). Ketua PCNU, H Arbai Hasan, menyampaikan rasa kehilangan yang sangat besar atas berpulangnya salah satu kader ulama terbaiknya. Jumat (10/07/2026) ​”Kami atas nama keluarga besar PCNU menyampaikan takziah dan rasa […]

expand_less