Terbaru
light_mode
Beranda » Opini » Jejak Suri Teladan Santri: dari Kiai, Pesantren, hingga Karakter yang Dibawa Pulang

Jejak Suri Teladan Santri: dari Kiai, Pesantren, hingga Karakter yang Dibawa Pulang

  • account_circle admin
  • calendar_month 1 jam yang lalu
  • visibility 32
  • print Cetak

Ada sesuatu yang tidak tertulis dalam ijazah seorang santri. Ia tidak selalu tampak dalam daftar nilai, tidak selalu dapat dihitung dari jumlah kitab yang dikhatamkan, dan tidak pula cukup diukur dari banyaknya ayat atau hadis yang dihafal. Namun sesuatu itu akan terlihat ketika seorang santri pulang: cara ia berbicara kepada orang tua, menghormati guru, memperlakukan tetangga, menghadapi perbedaan, menggunakan ilmu, dan memegang amanah. Bahkan, cara ia bersikap ketika suatu hari memperoleh jabatan, kekuasaan, dan kehormatan. Di situlah jejak pesantren mulai terbaca.

Santri boleh meninggalkan gerbang pesantren, tetapi pesantren idealnya tidak pernah meninggalkan santri. Nilai-nilai yang ditanamkan kiai, kebiasaan yang dibentuk, adab yang diajarkan, disiplin yang dijalankan, serta pengalaman hidup bersama sesama santri perlahan menjadi bagian dari kepribadian. Karena itu, berbicara tentang santri sesungguhnya bukan sekadar berbicara tentang seseorang yang pernah tinggal di pondok pesantren, melainkan tentang manusia yang membawa pulang pengalaman pendidikan, keteladanan, ilmu, dan nilai pesantren ke tengah masyarakat.

Persoalan ini menjadi semakin menarik jika kita menengok Kabupaten Probolinggo. Daerah ini memiliki banyak pesantren dengan corak beragam: salaf, modern, semi-modern, tahfiz, pesantren dengan jumlah santri relatif kecil, hingga yang memiliki ribuan santri dan lembaga pendidikan dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Keragaman tersebut tentu melahirkan pengalaman pendidikan yang tidak sepenuhnya sama. Santri adalah santri, tetapi jejak yang dibawa setiap santri dapat berbeda karena dibentuk oleh kultur pesantren yang berbeda. Ada yang kuat dalam tradisi kitab kuning, ada yang tumbuh dengan budaya organisasi, ditempa hafalan Al-Qur’an, dibentuk kedisiplinan yang ketat, mendapatkan pengalaman dakwah, belajar kewirausahaan, atau bahkan sudah bersentuhan dengan teknologi digital sejak di pesantren. Semuanya menjadi bagian dari perjalanan panjang pembentukan karakter.

Kiai sebagai Suri Teladan Pertama

Dalam tradisi pesantren, pendidikan karakter tidak dimulai dari buku, melainkan dari keteladanan. Kiai adalah figur utama dalam proses tersebut. Santri tidak hanya mendengarkan apa yang disampaikan kiai, tetapi juga mengamati bagaimana beliau menjalani kehidupan: bagaimana menerima tamu, memperlakukan orang miskin, berbicara kepada masyarakat, menghadapi orang yang berbeda pendapat, menggunakan harta, menjaga keluarga, merespons pujian, dan menghadapi kritik. Semua itu menjadi pelajaran. Dalam kehidupan pesantren, perilaku kiai adalah kurikulum yang hidup.

Seorang kiai mungkin tidak pernah membuka mata kuliah bernama “kesederhanaan”, tetapi ketika santri melihat beliau hidup sederhana, pesan itu jauh lebih kuat daripada ceramah. Kiai mungkin tidak pernah menyelenggarakan satu semester khusus tentang “keikhlasan”, tetapi ketika santri menyaksikan beliau melayani masyarakat tanpa banyak menyebut jasanya, mereka belajar ikhlas dari sana. Kajian tentang pendidikan karakter pesantren pun menunjukkan bahwa keteladanan kiai merupakan mekanisme penting dalam internalisasi nilai, sebab santri belajar melalui pengamatan dan pembiasaan, bukan hanya melalui instruksi lisan. Dengan kata lain, pesantren membangun karakter melalui proses melihat, meniru, mengulang, dan akhirnya menghayati.

Al-Ghazali: Ilmu, Adab, dan Amal

Pembicaraan tentang karakter santri membawa kita kepada pemikiran Imam Abu Hamid al-Ghazali. Dalam Ihya’ ‘Ulumiddin, ia memberi perhatian sangat besar pada ilmu, guru, murid, adab, serta penyakit hati yang dapat menjangkiti orang berilmu. Bagi al-Ghazali, ilmu tidak boleh berhenti sebagai pengetahuan; ia harus mengubah manusia. Maka pertanyaan kepada orang berilmu bukan hanya “Apa yang ia ketahui?”, tetapi juga “Apa yang dilakukan dengan pengetahuan tersebut?”

Santri mungkin menguasai kitab, hafal banyak hadis, mampu menjelaskan hukum fikih, atau pandai berbicara tentang tasawuf. Namun semua itu harus tercermin dalam akhlaknya. Apakah ia semakin tawadhu, ikhlas, dan sabar? Apakah ia semakin mampu mengendalikan hawa nafsu, menghormati orang lain, dan dekat kepada Allah? Dalam perspektif al-Ghazali, ilmu yang tidak melahirkan perubahan moral dapat menjadi persoalan tersendiri. Orang dapat mengetahui kebaikan tetapi tidak melakukannya, berbicara tentang ikhlas tetapi mengejar pujian, mengajarkan tawadhu tetapi menyukai penghormatan, atau berbicara tentang zuhud tetapi sangat mencintai dunia. Karena itu, pendidikan santri tidak cukup menghasilkan orang yang tahu agama; ia harus melahirkan orang yang hidup dengan nilai agama.

Di sinilah salah satu inti pendidikan pesantren: ilmu, adab, lalu amal. Ilmu memberikan pengetahuan, adab mengarahkan cara menggunakannya, dan amal menunjukkan bahwa ilmu itu benar-benar hidup. Santri yang mengetahui pentingnya kejujuran tetapi tetap berbohong, yang memahami kewajiban menghormati orang tua tetapi tetap bersikap kasar kepada mereka, atau yang mengerti bahaya kesombongan tetapi gemar merendahkan orang lain, belum selesai dengan ilmunya. Ilmu harus turun dari kepala menuju hati, lalu tampak dalam perilaku. Dalam semangat pemikiran al-Ghazali, pendidikan manusia berkaitan dengan proses membersihkan jiwa dari sifat-sifat tercela dan menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji. Dengan demikian, santri yang pulang dari pesantren idealnya membawa lebih dari sekadar hafalan: ia membawa akhlak.

Pesantren sebagai Sekolah Kehidupan

Pesantren memiliki kekuatan yang tidak selalu dimiliki lembaga pendidikan lain, yaitu santri hidup dalam lingkungan pendidikan hampir sepanjang hari. Bangun pagi, shalat berjamaah, mengaji, sekolah, makan bersama, piket, berorganisasi, belajar malam, lalu kembali ke masjid. Semua berlangsung berulang, dan kebiasaan itu lama-kelamaan menjadi karakter. Pierre Bourdieu menyebut proses semacam ini sebagai pembentukan habitus, yakni kecenderungan yang terbentuk melalui pengalaman sosial yang berulang dan kemudian memengaruhi cara seseorang berpikir dan bertindak.

Di pesantren, pendidikan tidak hanya berlangsung melalui materi pelajaran, tetapi melalui kehidupan sehari-hari. Santri terbiasa antre, berbagi, mengikuti aturan, menghormati guru, hidup sederhana, bekerja bersama, dan menerima konsekuensi. Ketika keluar dari pesantren, ia membawa habitus itu ke dalam kehidupan sosial. Namun, habitus setiap pesantren tidak selalu sama.

Jejak yang Berbeda dari Pesantren yang Berbeda

Karena itu, tidak tepat mengatakan bahwa semua santri memiliki karakter yang identik. Yang lebih menarik adalah menelusuri kekhasan karakter yang dibentuk oleh kultur masing-masing pesantren. Di Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, misalnya, terdapat tradisi Satlogi Santri yang sangat kuat, mencakup sopan santun, istiqamah, nasihat, taqwallah, ridha Allah, dan ikhlas. Penelitian mengenai Satlogi Santri menempatkannya sebagai local genius yang menjadi dasar perilaku dan budaya santri Genggong. Artinya, nilai itu tidak sekadar dipelajari, tetapi menjadi identitas. Jika sopan santun menjadi nilai utama, santri dibiasakan membawanya dalam kehidupan. Jika istiqamah, mereka ditempa untuk konsisten. Jika ikhlas, mereka dididik agar tidak menjadikan setiap kebaikan sebagai transaksi penghargaan.

Di Pondok Pesantren Nurul Jadid terdapat Panca Kesadaran Santri: kesadaran beragama, berilmu, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta berorganisasi. Dari sini tampak bahwa santri dipersiapkan bukan hanya menjadi pribadi yang saleh secara personal, tetapi juga manusia sosial yang mampu hidup di tengah masyarakat, berorganisasi, memiliki kesadaran kebangsaan, dan bertanggung jawab secara sosial. Pesantren lain mungkin menekankan hal berbeda, seperti tahfiz, kajian kitab, bahasa, dakwah, kewirausahaan, atau pendidikan formal. Perbedaan itu tidak perlu dipertentangkan, sebab justru di situlah kekayaan pesantren. Setiap pesantren meninggalkan jejaknya sendiri dalam diri santri.

Lalu, apa yang dibawa santri ketika pulang? Bukan hanya kitab, ijazah, atau foto bersama kiai, melainkan kebiasaan: cara berbicara, cara menghormati, cara menyelesaikan persoalan, pengalaman bekerja bersama, hidup sederhana, dan berorganisasi. Yang paling penting, ia membawa pulang cara memandang manusia dan kehidupan. Jika di pesantren terbiasa menghormati guru, diharapkan ia menghormati orang lain. Jika terbiasa hidup sederhana, diharapkan ia tidak mudah diperbudak konsumsi. Jika terbiasa berjamaah, ia memahami pentingnya kebersamaan. Jika terbiasa bermusyawarah, ia mampu menghargai pendapat orang lain. Jika terbiasa mengaji, ia membawa semangat belajar sepanjang hayat. Dengan demikian, karakter santri baru benar-benar terlihat ketika ia berada di luar pesantren.

Habermas dan Santri dalam Masyarakat Komunikatif

Di titik ini, pemikiran Jürgen Habermas menjadi relevan. Ia berbicara tentang tindakan komunikatif: manusia berkomunikasi tidak semata untuk memenangkan kepentingannya, tetapi juga untuk mencapai saling pengertian. Dalam masyarakat yang kian plural, kemampuan ini sangat penting. Santri hidup di tengah masyarakat yang tidak semuanya berlatar pesantren. Tidak semua orang memahami bahasa kitab, memiliki tradisi keagamaan yang sama, atau berpandangan politik dan cara berpikir yang sama.

Maka santri membutuhkan kemampuan komunikasi yang lebih luas. Ia tidak cukup pandai berbicara, tetapi harus pandai mendengar. Tidak cukup berdakwah, tetapi harus memahami kegelisahan masyarakat. Tidak cukup mengutip dalil, tetapi harus mampu menjelaskan maknanya dengan bahasa yang dipahami masyarakat. Tidak cukup memenangkan perdebatan, tetapi harus mampu membangun kesepahaman. Inilah yang dapat kita sebut sebagai karakter komunikatif santri.

Ruang publik santri hari ini pun tidak lagi hanya masjid. Media sosial menjadi ruang perjumpaan, TikTok ruang percakapan, YouTube ruang dakwah, podcast ruang dialog, dan WhatsApp ruang penyebaran informasi. Di ruang-ruang inilah karakter santri kembali diuji. Apakah ilmu digunakan untuk mencerdaskan, atau untuk menunjukkan bahwa dirinya paling benar? Apakah media sosial dipakai untuk menyebarkan kemaslahatan, atau mencari popularitas? Apakah perbedaan pendapat menjadi ruang dialog, atau berubah menjadi penghinaan? Santri idealnya menjadi bagian dari masyarakat yang mampu berdialog secara rasional dan beradab.

Al-Ghazali dan Habermas: Dua Jalan yang Bertemu

Pada titik ini, pemikiran Habermas dan al-Ghazali menarik untuk dipertemukan. Habermas memberi perhatian pada bagaimana komunikasi berlangsung, sedangkan al-Ghazali memberi perhatian pada siapa manusia yang berkomunikasi dan bagaimana kondisi batinnya. Seorang santri dapat memiliki kemampuan komunikasi yang sangat baik, tetapi jika hatinya dipenuhi kesombongan, komunikasi dapat berubah menjadi alat manipulasi. Sebaliknya, seseorang mungkin sangat ikhlas tetapi tidak mampu berkomunikasi dengan baik, sehingga pesan kebaikannya sulit diterima masyarakat. Karena itu, santri masa depan membutuhkan keduanya: kecakapan komunikasi dan kedalaman moral. Dengan bahasa sederhana, Habermas mengajarkan pentingnya membangun kesepahaman, sementara al-Ghazali mengajarkan agar orang yang membangun kesepahaman itu terlebih dahulu membangun dirinya sendiri.

Salah satu tanda ilmu yang matang adalah kemampuan mengakui keterbatasan. Di era media sosial, semua orang seolah harus mempunyai jawaban, padahal orang berilmu justru menyadari bahwa persoalan manusia sangat kompleks. Santri perlu berani mengatakan, “Saya belum tahu”, “Saya perlu membaca kembali”, “Masalah ini memiliki beberapa pendapat”, atau “Saya perlu bertanya kepada guru”. Sikap ini bukan kelemahan, melainkan bentuk tawadhu ilmiah. Sejalan dengan semangat al-Ghazali, ilmu seharusnya membuat manusia semakin sadar akan keterbatasannya; dan dalam perspektif Habermas, komunikasi yang sehat membutuhkan keterbukaan terhadap pengujian klaim. Santri yang matang bukan yang selalu ingin menjadi orang terakhir yang berbicara, melainkan yang tahu kapan harus berbicara dan kapan harus mendengar.

Ta’dzim kepada kiai pun tidak seharusnya dipahami sebagai larangan berpikir. Menghormati guru tidak berarti tidak boleh bertanya. Santri justru harus memiliki tradisi bertanya, tetapi dengan adab; berbeda pendapat dengan ilmu; mengkritik tanpa menghina. Di sinilah titik temu antara tradisi pesantren dan masyarakat komunikatif: santri dapat menghormati kiai sekaligus mengembangkan nalar kritis. Sebab tujuan ilmu bukan menjadikan manusia pengikut tanpa kesadaran, melainkan membuatnya mampu membedakan yang benar dari yang salah, serta yang bermanfaat dari yang merusak.

Santri, Kekuasaan, dan Ruang Digital

Karakter santri juga akan diuji ketika ia memasuki dunia kekuasaan. Santri boleh menjadi politisi, birokrat, pengusaha, atau pejabat. Bahkan, santri harus hadir di ruang-ruang strategis kehidupan masyarakat. Tetapi di situlah ilmu dan adab mendapat ujian paling berat. Kekuasaan dapat membuat seseorang berhenti mendengar, merasa selalu benar, dan menjadikan agama sebagai alat legitimasi, padahal agama semestinya menjadi sumber koreksi moral terhadap kekuasaan. Karena itu, karakter santri tidak cukup diuji ketika ia berada di masjid, tetapi ketika ia memiliki kewenangan atas orang lain. Apakah ia masih tawadhu? Apakah masih mau menerima kritik dan bermusyawarah? Apakah masih memikirkan masyarakat kecil, dan mampu mengatakan tidak kepada kepentingan yang bertentangan dengan nilai? Di sinilah ilmu agama menemukan makna sosialnya.

Masyarakat Kabupaten Probolinggo adalah masyarakat yang beragam: petani, pedagang, nelayan, buruh, guru, pegawai, pengusaha, anak muda, kelompok keagamaan, hingga komunitas sosial, masing-masing dengan persoalan dan bahasa sosial yang berbeda. Santri berpeluang menjadi jembatan komunikasi di antara mereka. Ia dapat membawa bahasa agama kepada masyarakat tanpa menghakimi, menyampaikan suara masyarakat kepada tokoh agama, mempertemukan kelompok yang berbeda, menjadi mediator ketika konflik terjadi, dan membantu generasi muda memahami agama dengan bahasa zamannya. Inilah salah satu bentuk aktualisasi masyarakat komunikatif.

Santri hari ini hidup di antara kitab dan algoritma, pengajian dan media sosial, kiai dan influencer, kitab kuning dan kecerdasan buatan. Perubahan itu tidak perlu ditakuti; yang harus dijaga adalah orientasinya. Teknologi boleh berubah, tetapi adab jangan. Media komunikasi boleh berkembang, tetapi kejujuran harus tetap. Cara berdakwah boleh berganti, tetapi keikhlasan jangan hilang. Santri boleh menjadi kreator konten, tetapi jangan menjadikan agama semata-mata komoditas popularitas. Di sinilah ajaran al-Ghazali tentang niat dan gagasan Habermas tentang komunikasi yang rasional dan terbuka menjadi semakin relevan.

Tiga Lapisan Karakter Santri

Jika seluruh pembahasan ini disederhanakan, karakter santri dapat dilihat dalam tiga lapisan. Pertama, karakter spiritual, yakni hubungan dengan Allah melalui ibadah, keikhlasan, tawadhu, kesabaran, dan pengendalian diri. Kedua, karakter sosial, yakni kemampuan hidup bersama, gotong royong, berorganisasi, kepedulian, dan modal sosial. Ketiga, karakter komunikatif, yakni kemampuan mendengar, berdialog, menghormati perbedaan, menyampaikan argumentasi, dan mencari kesepahaman. Jika ketiganya bertemu, kita memperoleh gambaran santri ideal: berilmu, beradab, mandiri, peduli, dan komunikatif.

Penutup: Jejak yang Dibawa Pulang

Pada akhirnya, pendidikan pesantren menemukan ukurannya ketika santri pulang. Di rumah, apakah ia tetap menghormati orang tua? Di kantor, apakah tetap jujur? Ketika menjadi pejabat, apakah tetap amanah? Ketika menjadi pengusaha, apakah tetap adil? Ketika menjadi akademisi, apakah tetap rendah hati? Di media sosial, apakah ia menjaga lisannya? Ketika berbeda pilihan politik, apakah tetap menjaga persaudaraan? Jika jawabannya iya, pesantren telah meninggalkan jejak yang baik. Sebab pesantren tidak hanya ingin membuat santri pandai menjawab pertanyaan agama, tetapi ingin membentuk manusia yang mampu menjalani kehidupan sesuai nilai agama.

Rantai pendidikan pesantren itu panjang. Kiai memberi teladan, santri mengamati dan membiasakan, kebiasaan menjadi karakter, karakter dibawa keluar, dan masyarakat merasakan manfaatnya. Di titik terakhir itulah kualitas pesantren diuji. Jika santri mampu membawa kedamaian, pesantren meninggalkan kedamaian. Jika mampu menjadi penengah, pesantren meninggalkan tradisi persaudaraan. Jika mampu bersikap jujur, pesantren meninggalkan kejujuran. Jika mampu menjadi manusia yang bermanfaat, pesantren meninggalkan kemanfaatan. Maka alumni bukan sekadar lulusan, melainkan jejak berjalan dari pesantren.

Santri suatu hari akan meninggalkan pesantren: kamar, jadwal pondok, halaman tempat bermain, teman-teman, dan mungkin juga kampung tempat pesantren berdiri. Tetapi ada sesuatu yang seharusnya tidak pernah ia tinggalkan, yaitu adab. Ilmu boleh berkembang, profesi boleh berubah, tempat tinggal boleh berpindah, lingkaran pergaulan boleh meluas, dan teknologi boleh berganti, tetapi adab harus tetap menjadi akar.

Imam al-Ghazali mengingatkan bahwa ilmu harus mengantarkan manusia kepada perbaikan diri, penyucian jiwa, dan kedekatan kepada Allah. Jürgen Habermas mengingatkan bahwa manusia hidup bersama orang lain dan membutuhkan komunikasi untuk membangun kesepahaman. Pierre Bourdieu membantu kita memahami bahwa pengalaman hidup yang berulang akan membentuk habitus yang memengaruhi perilaku. Jika ketiganya dipakai untuk membaca dunia pesantren, tergambar sebuah rangkaian: kiai memberikan teladan, pesantren menciptakan lingkungan, kebiasaan membentuk habitus, ilmu membentuk cara berpikir, adab membentuk cara bersikap, dan komunikasi menghubungkan santri dengan masyarakat. Akhirnya, karakterlah yang dibawa pulang.

Karena itu, masyarakat tidak hanya akan bertanya, “Dari pesantren mana kamu?”, tetapi juga akan melihat, “Apa yang berubah dalam dirimu setelah menjadi santri?” Pertanyaan itulah yang paling penting. Sebab santri bukan sekadar orang yang pernah tinggal di pesantren, melainkan orang yang membawa pesantren dalam kehidupannya. Jika menjadi guru, jadilah guru yang mendidik dengan kasih sayang. Jika menjadi pejabat, jadilah pejabat yang amanah. Jika menjadi pengusaha, jadilah pengusaha yang jujur. Jika menjadi politisi, jangan kehilangan nurani. Jika menjadi akademisi, tetaplah rendah hati. Jika menjadi tokoh masyarakat, jadilah jembatan. Jika menjadi pengguna media sosial, jagalah lisan. Dan jika suatu hari tidak memiliki jabatan apa pun, tetaplah menjadi manusia yang bermanfaat, sebagaimana sabda Nabi bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya (HR. at-Thabrani).

Pada akhirnya, yang tinggal bukanlah gelar, jabatan, popularitas, atau jumlah pengikut, melainkan jejak: jejak seorang kiai, sebuah pesantren, ilmu yang dipelajari, adab yang dibiasakan, dan kehidupan bersama. Jejak itu akan terlihat dari karakter yang dibawa pulang oleh seorang santri. Pesantren boleh ditinggalkan secara fisik, tetapi nilai pesantren jangan pernah ditinggalkan dalam kehidupan. Sebab santri yang sesungguhnya adalah jejak pesantren yang terus berjalan di tengah masyarakat. Wallahu a’lam.

 

*) Oleh : Husni Mubaroq, Wakil Sekretaris PCNU Kota Probolinggo.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah menjadi tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi nukotaprobolinggo.or.id

*) Opini atau rubik opini untuk umum dengan panjang naskah 500- 1000 kata.

  • Penulis: admin

Rekomendasi Untuk Anda

  • Konferensi Anak Cabang (Konferancab) PAC IPNU-IPPNU Kanigaran menghasilkan kepemimpinan baru, . Muhammad Hasan Wira Stika dan Syafira Nur Aulia

    Terpilih Pimpin IPNU-IPPNU Kanigaran, Wira dan Syafira Siapkan Sejumlah Program, Usung Organisasi sebagai Rumah Kedua Kader

    • calendar_month Senin, 3 Agt 2026
    • account_circle Moch. Putra Vikry Romadhoni
    • visibility 247
    • 0Komentar

    PROBOLINGGO – Konferensi Anak Cabang (Konferancab) Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU-IPPNU Kanigaran yang diselenggarakan Pada Minggu (2/6/2026) tak sekadar melahirkan kepengurusan baru. Forum yang di adakan di Aula Kemenag Kota Probolinggo tersebut juga menghadirkan semangat baru melalui terpilihnya Muhammad Hasan Wira Stika sebagai Ketua PAC IPNU dan Syafira Nur Aulia sebagai Ketua PAC IPPNU Kanigaran […]

  • Ekonomi Digital dan Generasi Muda NU: Saatnya Menjadi Pelaku, Bukan Sekadar Penonton

    Ekonomi Digital dan Generasi Muda NU: Saatnya Menjadi Pelaku, Bukan Sekadar Penonton

    • calendar_month Minggu, 5 Jul 2026
    • account_circle Najibur Rohman
    • visibility 1.308
    • 0Komentar

    Perkembangan ekonomi digital telah mengubah cara masyarakat bekerja, berbisnis, dan membangun masa depan. Di tengah pesatnya pertumbuhan e-commerce, media sosial, hingga ekonomi kreatif berbasis digital, generasi muda Nahdlatul Ulama (NU) memiliki peluang besar untuk menjadi bagian dari perubahan tersebut. Sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, NU memiliki modal sosial yang kuat: jaringan hingga tingkat desa, […]

  • Antisipasi Kerawanan Pemilu 2029, LBH Ansor Kota Probolinggo Gandeng Bawaslu

    Antisipasi Kerawanan Pemilu 2029, LBH Ansor Kota Probolinggo Gandeng Bawaslu

    • calendar_month Senin, 29 Jun 2026
    • account_circle Ulil Hadi Ernanda Putra
    • visibility 432
    • 0Komentar

    Probolinggo  – Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Ansor resmi menjalin kolaborasi dengan Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kota Probolinggo. Sinergi ini dibangun sebagai langkah awal untuk memperkuat pengawasan partisipatif dari unsur masyarakat sipil guna menyelenggarakan Pemilu Nasional 2029. Senin, (29/06/2026). Langkah taktis ini diambil guna memastikan pelaksanaan pemilihan Presiden, DPR RI, dan DPD di masa mendatang […]

  • Sambut Siklus Tanam Baru, Petani Wonoasih dan LPPNU Kota Probolinggo Hidupkan Semangat Fatwa Pertanian KH Hasyim Asy’ari

    Sambut Siklus Tanam Baru, Petani Wonoasih dan LPPNU Kota Probolinggo Hidupkan Semangat Fatwa Pertanian KH Hasyim Asy’ari

    • calendar_month Sabtu, 4 Jul 2026
    • account_circle Ulil Hadi Ernanda P
    • visibility 228
    • 0Komentar

    Probolinggo , Menyambut siklus tanam baru di tengah cuaca yang cerah, para petani di wilayah Wonoasih, Kota Probolinggo, mulai bersiap mengolah lahan pada Sabtu (4/7/2026). Langkah strategis demi menjaga ketahanan pangan di tingkat akar rumput ini dilakukan melalui kolaborasi erat bersama Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) Kota Probolinggo dan koordinator kelompok tani kecamatan setempat. […]

  • Soroti Dinamika Internal, Dewan Pengurus PP Annur Minta NU Kembalikan Marwah dan Independensi

    Soroti Dinamika Internal, Dewan Pengurus PP Annur Minta NU Kembalikan Marwah dan Independensi

    • calendar_month Jumat, 24 Jul 2026
    • account_circle M Rizal Wahyudi
    • visibility 304
    • 0Komentar

    PROBOLINGGO — Nahdlatul Ulama (NU) dinilai tengah menghadapi ujian berat pasca-Muktamar Ke-34 di Lampung. Salah satu dewan pengurus PP Annur  Sumber Taman Gus Munir, menyoroti pergeseran dinamika internal organisasi yang dinilainya kian rentan terkooptasi oleh kepentingan politik praktis dan intrik kekuasaan. Gus Munir mengungkapkan, pada awal masa kepengurusan pasca-Muktamar Lampung, NU sebenarnya menunjukkan optimisme dan […]

  • Kedepankan Kondusivitas dan Sportivitas, TM Turnamen Futsal GP Ansor Kota Probolinggo Tekankan Komitmen Antianarkis

    Kedepankan Kondusivitas dan Sportivitas, TM Turnamen Futsal GP Ansor Kota Probolinggo Tekankan Komitmen Antianarkis

    • calendar_month Minggu, 11 Okt 2026
    • account_circle Ulil Hadi Ernanda P
    • visibility 117
    • 0Komentar

    PROBOLINGGO – Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Probolinggo menggelar agenda Technical Meeting (TM) Ansor Turnamen Futsal Cup 2026 di Aula Kantor KPU Kota Probolinggo, Minggu (11/10/2026). Agenda ini menjadi ikhtiar penting untuk meneguhkan komitmen bersama demi menghadirkan kompetisi yang aman, damai, dan maslahat bagi pemuda. Kegiatan yang digelar dalam rangka menyemarakkan Peringatan Hari […]

expand_less