Jadi Benteng Kiai dan NKRI, Pagar Nusa Kota Probolinggo Pukau Penonton di Halaman Pemkot
- account_circle Ulil Hadi Ernanda P
- calendar_month 16 jam yang lalu
- visibility 128
- print Cetak

PROBOLINGGO, — Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di Kota Probolinggo berlangsung penuh khidmat dan semarak. Bertempat di Halaman Kantor Wali Kota Probolinggo. (22/10/2026)
Panggung peringatan HSN diwarnai oleh penampilan pukau seni kolosal pencak silat bertajuk “Gema Jurus Santri Nusantara” yang dibawakan oleh Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa Kota Probolinggo.
Sebanyak 60 personel pesilat Pagar Nusa tampak padu menyatukan gerak dan jurus, berbalut seragam sakral hitam kebanggaan, para pesilat memperagakan formasi ketangkasan bela diri yang diselaraskan dengan musik tradisional Nusantara, berhasil memikat perhatian para kiai, ulama, pejabat Pemkot Probolinggo, serta para peserta upacara yang hadir.
Penanggung jawab Rudi Hermanto, menyampaikan bahwa pertunjukan kolosal ini diikhtiarkan bukan sekadar sebagai ajang ketangkasan fisik, melainkan sebagai sarana tabarruk (ngalap berkah) dan sarana syiar nilai-nilai ke-NU-an kepada generasi muda.
”Melalui karya ‘Gema Jurus Santri Nusantara’ ini, kami ingin mengenalkan kembali warisan seni bela diri peninggalan para Ulama Nusantara. Pencak silat Pagar Nusa bukan hanya sekadar olahraga bela diri, tetapi juga ikhtiar menjaga tradisi, media dakwah, dan benteng spiritual peninggalan para kiai,” terang Rudi di sela-sela acara.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya merawat ingatan sejarah (jasmerah) akan peran besar santri dalam mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan bangsa Indonesia.
”Peringatan Hari Santri Nasional tahun 2026 ini menjadi momen penting untuk mengingatkan kita semua akan rekam jejak perjuangan para santri dan kiai. Sejak jaman Resolusi Jihad hingga hari ini, santri selalu berada di garda terdepan menjaga kedaulatan NKRI serta setia menempatkan diri sebagai benteng dan pengawal para kiai,” tegasnya.
Atraksi diawali dengan gerakan sembahan penuh khidmat yang menggambarkan ketawaduan seorang santri saat menuntut ilmu di pesantren. Suasana kemudian berubah riuh gemuruh saat ketukan musik mengiringi jurus-jurus tegas nan presisi. Mulai dari simbol pertahanan benteng, gerakan perlawanan, hingga formasi barisan rapat yang mengisyaratkan eratnya ukhuwah islamiyah dan ukhuwah wathaniyah.
Pagar Nusa Kota Probolinggo berharap, melalui persembahan seni kolosal ini, nilai-nilai keberanian, kedisiplinan, serta ketundukan kepada arahan para kiai (sami’na wa atha’na) terus tertanam kuat dalam dada para pendekar dan santri di Kota Probolinggo.
- Penulis: Ulil Hadi Ernanda P
- Editor: M Rizal wahyudi