Teladan Demokrasi dan Kesederhanaan Tiga Tokoh NU dari Gus Umar Wahid
- account_circle M Rizal Wahyudi
- calendar_month Jumat, 28 Agt 2026
- visibility 69
- print Cetak

JOMBANG – Adik kandung KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Gus Umar Wahid mengisahkan keteladanan akhlak, kedisiplinan, serta kedewasaan berdemokrasi dari tiga tokoh besar Nahdlatul Ulama : KH Abdul Wahab Chasbullah, KH Bisri Syansuri, dan Gus Dur. Kesaksian sejarah tersebut ia tuturkan dalam Musyawarah Besar (Mubes) Warga Nahdlatul Ulama (NU) 2026 yang digelar di halaman Madrasah Aliyah Salafiyah Syafi’iyah (MASS) Seblak, Jumat (28/8/2026).
Gus Umar mengawali kisahnya dengan menyoroti laku disiplin Mbah Bisri Syansuri yang sangat tertib menjaga waktu ibadah maupun urusan jamiyyah. Ketika menghadiri undangan rapat PBNU, Mbah Bisri senantiasa tiba sebelum waktu yang ditentukan meski putrinya sempat mengingatkan kebiasaan rapat yang kerap terlambat.
“Mbah Bisri dawuh, yang terpenting undangannya jam tujuh, maka harus hadir sebelum jam tujuh,” kenang Gus Umar.
Selain ketertiban waktu, Gus Umar menceritakan kehati-hatian perihal kehalalan harta saat Mbah Bisri berpamitan hendak umrah pada tahun 1973. Kala itu Presiden Soeharto memberikan bekal mi instan dan amplop berisi uang pribadi. Pak Harto bahkan menegaskan bahwa uang tersebut berasal dari rapelan gajinya sebagai jenderal agar dipastikan halal untuk sang kiai.
Salah satu fragmen sejarah penting yang disoroti Gus Umar adalah dinamika Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Saat itu terjadi silang pendapat tajam di tubuh PBNU: KH Wahab Chasbullah selaku Rais Aam mendukung langkah Bung Karno, sementara KH Bisri Syansuri selaku Wakil Rais Aam menolaknya karena menilai hak pilih rakyat telah dirampas.
“Kala itu bila Mbah Bisri dan Kiai Wahab sudah beradu argumentasi, yang lain memilih diam mendengarkan karena tingginya kedalaman ilmu beliau berdua,” ujar Gus Umar.
Ketika rapat gabungan PBNU akhirnya memutuskan mendukung dekrit, Mbah Bisri menunjukkan sikap ksatria. Meski secara pribadi tidak setuju, beliau tetap menerima dan mematuhi keputusan organisasi tanpa berniat memecah belah warga nahdliyin.
Sikap legawa itu kembali tampak saat putri beliau, Nyai Hj. Solichah Wahid Hasyim, diangkat menjadi anggota DPR-GR. Mbah Bisri membebaskan sang putri menentukan pilihan secara mandiri dan menghormati hasil musyawarah PBNU.
Sebagai dokter pribadi yang mendampingi Gus Dur di berbagai masa pengabdian mulai dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), PBNU, Presiden RI ke-4, hingga Dewan Syuro PKB Gus Umar menyaksikan benang merah karakter antara Gus Dur dan para masyayikh pendahulunya.
“Ketiga beliau ini teguh pada prinsip, satunya kata dengan perbuatan, mencontohkan demokrasi yang sehat, dan hidup dalam kesederhanaan,” ungkap Gus Umar.
Menutup paparannya, Gus Umar berharap agar khidmah dan kepemimpinan di lingkungan NU senantiasa dihiasi oleh figur-figur yang mampu meneladani integritas serta keluhuran budi pekerti para muassis dan masyayikh tersebut.
- Penulis: M Rizal Wahyudi
- Editor: Ulil Hadi Ernanda Putra