Terbaru
light_mode
Beranda » Opini » Agama di Tengah Konflik Ekologis: Belajar dari Gus Dur

Agama di Tengah Konflik Ekologis: Belajar dari Gus Dur

  • account_circle Ahmad Navid Dzauqil Amin
  • calendar_month Sabtu, 8 Agt 2026
  • visibility 116
  • print Cetak

Indonesia akhir-akhir ini terdapat berbagai peristiwa bencana alam yang terjadi, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai daerah, terutama Riau, Kalimantan, Bangka Belitung, Jawa Timur hingga Sumatera. Pembabatan hutan di tanah Papua yang saat ini menjadi topik hangan untuk dijadikan proyek besar pemerintah sebagai swasembada pangan.

Gelombang besar protes terjadi, aktivis, pegiat lingkungan, pers bergerak untuk mengangkat isu tersebut, film Pesta Babi diluncurkan, nobar (nonton bareng) dimana-mana, ada yang tergerak, ada yang prihatin, ada yang takut, bahkan hingga di beberapa tempat nobar dilarang.

Topik pembahasan kali ini kita tidak akan membahas dari sisi ekologis maupun dari jumlah kerugian dana yang terdampak. Ada hal yang sifatnya fundamental yang banyak luput dari perhatian publik, yaitu tentang dimana peran agama dan persoalan moral yang harusnya menjadi bahan pertimbangan yang sifatnya tidak kalah penting dengan unsur yang lain.

Manusia adalah makhluk sosial, segala aspek kehidupan tidak bisa lepas dari sangsi sosial dan tata aturan norma yang berlaku, norma kehidupan bermasyarakat yang tertulis dan bertujuan untuk keadilan sosial adalah hukum menurut Hans Kelsen (a system of norms). Hukum dibuat sebagai batasan dan untuk mengetahui hak dan kewajiban sebagai warna negara. Pemerintah ditugaskan untuk menjalankan negara sesuai dengan konstitusi yang berlaku. Oleh karena itu sudah seyogyanya dalam menjalankan roda pemerintahan, para pemegang amanat rakyat sudah seharusnya mengikuti aturan yang tertulis dalam UndangUndang, Semua peraturan perundang-undangan harus sesuai dengan UUD 1945 dan tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila.

Pancasila bukan konstitusi, melainkan dasar negara, ideologi negara, dan sumber dari segala sumber hukum, UUD 1945 merupakan penjabaran konstitusional dari nilai-nilai Pancasila, Pancasila menjadi dasar filosofis dan cita hukum (rechtsidee). Tertulis dalam sila kelima Pancasila, “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”, dari sini mari kita coba bedah apakah segala tindakan pemerintah benar-benar memperhatikan hal tersebut, apakah keadilan tersebut sudah hadir dan dapat dirasakan seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali?

Dalam pesan Hari Perdamaian Sedunia tahun 2002 Paus Yohanes Paulus II menyatakan:

“There is no peace without justice” (“Tidak ada perdamaian tanpa keadilan”). Tokoh Indonesia yang kerap mengedepankan perdamaian dan dijuluki sebagai bapak pluralisme adalah Gus Dur, sepak terjang beliau dalam memperjuangkan persamaan dan keadilan kepada seluruh rakyat Indonesia tidak perlu diragukan. Bahkan hingga akhirnya beliau dilengserkan dalam kursi kepresidenan Gus Dur masih tetap memprioritaskan perdamaian sesama anak bangsa, meskipun saat itu pasukan berani mati Gus Dur sudah siap membela mati-matian beliau.

Dari Gus Dur kita belajar, sebagai orang yang taat beragama dan sebagai manusia seutuhnya yang mengedapankan aspek moralitas. Bahwasanya segala bentuk tindak tanduk dan kebijakan yang dibuat harus selalu mengedepankan aspek keadilan, apalagi jika kebijakan tersebut menyangkut hak rakyat, pemerintah saat ini khususnya dan seluruh rakyat pada umumnya harus belajar dari Gus Dur tentang bagaimana pentingnya sifat saling menghargai dan tidak mengambil hak antar sesama.

Dikutip dari tulisan Gus Dur yang berjudul Islam dan Keadilan Sosial yang diterbitkan GusDur.Net  yang dipublikasikan pada tahun 2003. Disitu tertulis:

Salah satu ketentuan dasar yang dibawakan Islam adalah keadilan, baik yang bersifat perorangan maupun dalam kehidupan politik. Keadilan adalah tuntutan mutlak dalam Islam, baik rumusan “hendaklah kalian bertindak adil” (an ta’dilu) maupun keharusan “menegakkan keadilan” (kunu qawwamuna bi al-qisthi), berkali-kali dikemukakan dalam kitab suci Al-Qur’an. Dengan meminjam dua buah kata sangat populer dalam peristilahan kaum muslimin di atas, UUD 45 mengemukakan tujuan bernegara menegakkan keadilan dan mencapai kemakmuran. Masyarakat adil dan makmur merupakan tujuan bernegara Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kalau negara lain mengemukakan kemakmuran dan kemerdekaan (prosperity and liberty) sebagai tujuan, maka negara kita lebih menekankan prinsip keadilan daripada prinsip kemerdekaan itu.

Diakhir kata penulis mengajak pembaca mari kita bernalar sejenak dan saling menginstrokpeksi arah perjalanan bangsa ini, apakah sesuai dengan prinsip keadilan, dan sebagai bangsa yang merdeka, dan momentumnya saat tulisan ini dibuat berbarengan bulan kemerdekaan Indonesia yaitu bulan Agustus, sudah seharusnya kita benar-benar menjemput kemerdekaan yang haqiqi tersebut, kemerdekaan bukan hanya sebagai negara yang berdigdaya melainkan kemerdekaan bagi seluruh rakyat Indonesia. Wallahu a’lam. (*)

*) Oleh : Ahmad Navid Dzauqil Amin, Penggerak Jaringan Gusdurian.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah menjadi tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi nukotaprobolinggo.or.id
*) Opini atau rubik opini untuk umum dengan panjang naskah 500- 1000 kata.

  • Penulis: Ahmad Navid Dzauqil Amin

Rekomendasi Untuk Anda

  • ​Buka Muktamar Ke-35 NU, Presiden Prabowo : Jangan Lupakan Jasa Ulama

    ​Buka Muktamar Ke-35 NU, Presiden Prabowo : Jangan Lupakan Jasa Ulama

    • calendar_month Kamis, 27 Agt 2026
    • account_circle M Rizal Wahyudi
    • visibility 111
    • 0Komentar

    JOMBANG – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto secara resmi membuka perhelatan akbar Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, Jawa Timur, Kamis (27/8/2026). Dalam pidato takzimnya di hadapan ribuan kiai, ibu nyai, dan muktamirin, Presiden menegaskan besarnya kontribusi ulama dan kaum sarungan dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Di hadapan Rais ’Aam PBNU […]

  • PAC GP Ansor saat melakukan ziaroh muasis NU dan Makam Pahlawan, Senin (17/8/2026)

    GP Ansor Kademangan Ziarahi Makam Ulama dan Pahlawan, Refleksikan Makna Kemerdekaan

    • calendar_month Selasa, 18 Agt 2026
    • account_circle Moch. Vikry Romadhoni
    • visibility 143
    • 0Komentar

    Probolinggo — Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kademangan mengisi peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dengan ziarah ke makam para muasis Nahdlatul Ulama (NU), ulama, habaib, dan pahlawan, Senin (17/8/2026) malam. Kegiatan yang dimulai pukul 18.00 WIB tersebut menjadi bagian dari upaya mengenang jasa para pendahulu sekaligus menumbuhkan kembali […]

  • KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin

    Ini Profil Gus Kikin, Cicit KH Hasyim Asy’ari yang Terpilih Ketum PBNU 2026–2031,

    • calendar_month Senin, 31 Agt 2026
    • account_circle Moch. Vikry Romadhoni
    • visibility 136
    • 0Komentar

    Jombang — Sidang anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) secara resmi menetapkan KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmah 2026–2031. Penetapan tersebut dilakukan melalui musyawarah AHWA yang berlangsung di Gedung Serbaguna Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Senin (31/8/2026) pagi. Keputusan hasil musyawarah […]

  • Ra Fayyadl: Medsos Harus Jadi Ladang Barokah, Bukan Kejar Viral

    Ra Fayyadl: Medsos Harus Jadi Ladang Barokah, Bukan Kejar Viral

    • calendar_month Rabu, 29 Jul 2026
    • account_circle M Rizal Wahyudi
    • visibility 2.276
    • 0Komentar

    PROBOLINGGO – Di tengah maraknya perburuan popularitas dan ketergantungan generasi muda pada linimasa digital, Mudir Ma’had Aly Nurul Jadid Paiton, Lora Muhammad Fayyadl, mengingatkan para kader dan santri Nahdliyin untuk meluruskan niat dalam bermedia sosial. Pesan mendalam tersebut disampaikan dalam kegiatan Ngaji Budaya bertema “Harakah Pemuda Aswaja di Era Algoritma” yang diselenggarakan oleh PR Ranting […]

  • DPC K-Sarbumusi Kota Probolinggo Titip 3 Isu Buruh di Muktamar ke-35 NU

    DPC K-Sarbumusi Kota Probolinggo Titip 3 Isu Buruh di Muktamar ke-35 NU

    • calendar_month Jumat, 24 Jul 2026
    • account_circle Anas Fathullah
    • visibility 195
    • 0Komentar

    PROBOLINGGO – Dewan Pimpinan Cabang Konfederasi Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (DPC K-Sarbumusi) Kota Probolinggo mendorong agar perhelatan Muktamar ke-35 NU  mendatangkan angin segar bagi nasib kaum pekerja. Agenda akbar PBNU yang dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur tersebut dinilai menjadi momentum krusial untuk memperkuat arah kebijakan […]

  • Inspiratif ! Pemuda Probolinggo Ini Sukses Bisnis Tempe Sambil Berkhidmat di NU

    Inspiratif ! Pemuda Probolinggo Ini Sukses Bisnis Tempe Sambil Berkhidmat di NU

    • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
    • account_circle Ulil Hadi Ernanda P
    • visibility 329
    • 0Komentar

    Probolinggo, Tempe merupakan makanan pokok yang selalu hadir di setiap meja makan. Baik ketika makan bersama keluarga dirumah atau ketika berada di warung bahkan restoran sekalipun. Salah satunya tempe yang di produksi oleh mas mukhtar ali warga kelurahan sumber taman dan juga dikenal dengan aktivis ansor. Berbekal dari usaha yang diwariskan oleh orang tuanya pria 28 […]

expand_less