Terbaru
light_mode
Beranda » Warta » Berpulang dalam Keadaan Suci, Ketua JQHNU Kota Probolinggo KH Abdul Aziz RM Wafat

Berpulang dalam Keadaan Suci, Ketua JQHNU Kota Probolinggo KH Abdul Aziz RM Wafat

  • account_circle Ulil Hadi Ernanda P
  • calendar_month 13 jam yang lalu
  • visibility 50
  • print Cetak

PROBOLINGGO, — Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Kabar duka kembali menyelimuti warga Nahdliyin Kota Probolinggo. Ketua Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffazh Nahdlatul Ulama (JQHNU) Kota Probolinggo, KH Abdul Aziz RM, menghembuskan napas terakhirnya pada Senin malam sekitar pukul 22.00 WIB.

Pengasuh Pondok Pesantren Assanusiyah, Kelurahan Kareng Lor, Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo tersebut dikenal luas oleh jamaah dan santri sebagai ulama yang tak kenal lelah membumikan dan mensyiarkan Al-Qur’an.

Kepribadiannya yang sabar, teduh, serta sepi ing rame (tidak banyak bicara) menjadi cerminan keluhuran akhlak seorang kiai sepuh penuntun umat.

Salah satu putri almarhum, Neng Laily, menceritakan bahwa sebelum wafat sang ayah tidak memiliki riwayat sakit berat. Kondisinya menurun murni karena kelelahan setelah menjalankan tugas dakwah di luar kota.

“Abi boten sakit, hanya tidak enak badan karena kelelahan. Karena memang sebelumnya almarhum sering keluar kota menjadi dewan hakim (musabaqah),” tuturnya.

Neng Laily menambahkan, sesaat sebelum wafat, Kiai Aziz sempat mengambil air wudu ke kamar mandi lalu beristirahat. Dalam istirahat itulah almarhum dipanggil berpulang kehadirat Allah SWT secara tenang.

“Beliau meninggal dalam keadaan suci,” ungkap Neng Laily penuh keikhlasan.

Jenazah almarhum dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren Assanusiyah Kareng Lor, tempat kediaman sekaligus pesantren yang selama ini beliau asuh dan bina bersama para santri.

Kepergian KH Abdul Aziz RM meninggalkan duka mendalam bagi jajaran pengurus NU, para hafidz-hafidzah, serta masyarakat Kota Probolinggo.

Semoga almarhum ditempatkan di maqam mahmudah bersama para pecinta Al-Qur’an dan keluarga yang ditinggalkan dianugerahi ketabahan. Lahul fatihah.

  • Penulis: Ulil Hadi Ernanda P
  • Editor: Rizal wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jelang Muktamar NU Ke-35, Ketua MWCNU Kanigaran Tekankan Pentingnya Merawat Jam’iyyah dari Provokasi

    Jelang Muktamar NU Ke-35, Ketua MWCNU Kanigaran Tekankan Pentingnya Merawat Jam’iyyah dari Provokasi

    • calendar_month Rabu, 22 Jul 2026
    • account_circle Anas Fathullah
    • visibility 263
    • 0Komentar

    Probolinggo, – Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kanigaran, Kota Probolinggo, Jawa Timur, mengeluarkan imbauan penting menyongsong perhelatan Muktamar NU Ke-35 yang akan diselenggarakan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026. Rabu, 22/072026 Seruan agar seluruh warga Nahdliyin dan para pemangku kepentingan berfokus menjaga persatuan serta membentengi organisasi dari narasi provokatif. […]

  • Khawatirkan Nasib Petani, Lesbumi PBNU Tolak Rancangan Regulasi Pertembakauan

    Khawatirkan Nasib Petani, Lesbumi PBNU Tolak Rancangan Regulasi Pertembakauan

    • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
    • account_circle Ulil Hadi Ernanda P
    • visibility 209
    • 0Komentar

    Jakarta, Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Lesbumi PBNU) secara tegas mengeluarkan petisi penolakan terhadap sejumlah rancangan regulasi pertembakauan yang tengah digodok pemerintah. Aturan yang diinisiasi oleh Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) serta Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tersebut dinilai mengancam hajat hidup para petani dan buruh tembakau. ​Petisi tersebut […]

  • Islam dan Budaya: Menakar Batas Kelenturan Teks dalam Realitas Tahlilan Di Masyarakat

    Islam dan Budaya: Menakar Batas Kelenturan Teks dalam Realitas Tahlilan Di Masyarakat

    • calendar_month Sabtu, 4 Jul 2026
    • account_circle Ulil Hadi Ernanda P
    • visibility 130
    • 0Komentar

    Perdebatan hukum terkait tahlilan di Indonesia seolah menjadi lingkaran tanpa ujung. Konflik teologis tradisionalis (Nahdlatul Ulama/NU) dan puritan (Wahabi/Salafi) tidak menemukan titik temu. ​akan tetapi ada satu benang merah yang menarik untuk dikritisi yaitu : sejauh mana teks keagamaan harus tunduk pada kenyataan budaya, begitupun sebaliknya? ​Kekakuan Tekstual dan Kelenturan Budaya berangkat dari premis normatif […]

  • Presiden Dijadwalkan Hadir Tutup Muktamar Ke-35 NU di Tambakberas Jombang

    Presiden Dijadwalkan Hadir Tutup Muktamar Ke-35 NU di Tambakberas Jombang

    • calendar_month Minggu, 30 Agt 2026
    • account_circle M Rizal Wahyudi
    • visibility 52
    • 0Komentar

    JOMBANG – Perhelatan akbar Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, akan resmi ditutup pada Senin (31/8/2026). Presiden Republik Indonesia dijadwalkan hadir langsung untuk menutup forum permusyawaratan tertinggi jam’iyyah NU tersebut. ​Rencana kehadiran Kepala Negara dikonfirmasi oleh Ketua Panitia Lokal Muktamar Ke-35 NU sekaligus Ketua […]

  • Logo Muktamar Ke-35 NU Resmi Dirilis, Ini Maknanya

    Logo Muktamar Ke-35 NU Resmi Dirilis, Ini Maknanya

    • calendar_month Senin, 20 Jul 2026
    • account_circle M Rizal Wahyudi
    • visibility 165
    • 0Komentar

    ​JOMBANG – Gelaran akbar Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) tinggal menghitung hari. Menjelang forum tertinggi organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia ini, panitia resmi meluncurkan logo resmi Muktamar Ke-35 yang akan digelar pada 27–31 Agustus 2026 (14–18 R. Awwal 1448 H) mendatang. ​Logo ciptaan Shofa Ulul Azmi telah disepakati dalam rapat koordinasi bersama yang bertempat di […]

  • Teladan Demokrasi dan Kesederhanaan Tiga Tokoh NU dari Gus Umar Wahid

    Teladan Demokrasi dan Kesederhanaan Tiga Tokoh NU dari Gus Umar Wahid

    • calendar_month Jumat, 28 Agt 2026
    • account_circle M Rizal Wahyudi
    • visibility 74
    • 0Komentar

    JOMBANG – Adik kandung KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Gus Umar Wahid mengisahkan keteladanan akhlak, kedisiplinan, serta kedewasaan berdemokrasi dari tiga tokoh besar Nahdlatul Ulama : KH Abdul Wahab Chasbullah, KH Bisri Syansuri, dan Gus Dur. Kesaksian sejarah tersebut ia tuturkan dalam Musyawarah Besar (Mubes) Warga Nahdlatul Ulama (NU) 2026 yang digelar di halaman Madrasah […]

expand_less