Rekan Rudi Sulap Jagung dan Tempe Jadi Inovasi Pangan Lokal, Raih Pemenang Pemuda Pelopor Kota Probolinggo 2026
- account_circle Moch. PutraVikry Romadhoni
- calendar_month Senin, 13 Jul 2026
- visibility 2.125
- print Cetak

Muhammad Rudi (memakai peci) saat foto bersama Wali Kota Probolinggo beserta seluruh pemenang Pemuda Pelopor di awarding, Closing Semipro 2026, pada Minggu (12/7/2026)
Probolinggo — Di tengah derasnya arus makanan instan dan produk impor yang semakin akrab di lidah generasi muda, Muhammad Rudi memilih mengambil jalan berbeda. Pemuda asal Kelurahan Pohsangit Kidul, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo itu justru melihat harapan pada pangan yang selama ini akrab dengan kehidupan masyarakat, yakni jagung dan tempe.
Langkah tersebut membawanya meraih gelar Pemuda Pelopor Kota Probolinggo 2026 Bidang Pangan dalam ajang yang diselenggarakan Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Probolinggo. Rudi dinyatakan sebagai pemenang pada 9 Juni 2026, kemudian menerima penghargaan secara resmi pada acara penutupan Semipro 2026, Minggu (12/6/2026), yang diserahkan langsung oleh Wali Kota Probolinggo, dr. H. Aminuddin, Sp.OG.(K)., M.Kes.
Selain dikenal sebagai pelaku inovasi pangan, Rudi juga aktif di PC IPNU Kota Probolinggo sebagai Wakil Ketua II Bidang Kaderisasi.
Dalam ajang tersebut terdapat lima kategori, yakni bidang Pendidikan, Agama, Sosial dan Budaya; Pengelolaan Sumber Daya Alam, Lingkungan, dan Pariwisata; Pangan; serta Inovasi Teknologi. Total peserta yang mengikuti seleksi dari seluruh bidang mencapai 25 orang, dengan masing-masing kategori memilih satu pemenang terbaik.
Mengusung tema “Pemberdayaan Pangan Lokal Sehat, Inovasi Berbasis Tempe dan Jagung untuk Kesehatan, Ekonomi, dan Ketahanan Pangan Masyarakat Probolinggo”, Ia mengangkat persoalan yang selama ini dihadapi daerahnya.
Menurutnya, Kota Probolinggo memiliki potensi besar sebagai penghasil jagung. Namun, sebagian besar hasil panen masih dijual dalam bentuk bahan mentah sehingga nilai tambah yang diperoleh petani relatif rendah. Hanya sekitar 10 persen hasil jagung yang dimanfaatkan sebagai bahan pangan olahan.
Di sisi lain, tempe sebagai pangan lokal yang kaya manfaat juga masih kerap dipandang kurang menarik dibandingkan makanan cepat saji. Padahal, tempe merupakan sumber pangan bergizi yang mudah dijangkau masyarakat.
Berangkat dari kondisi tersebut, Rudi membangun inovasi yang menghubungkan potensi pertanian lokal dengan kebutuhan masyarakat modern. Ia memanfaatkan jagung dan kedelai hasil petani setempat untuk memperkuat rantai nilai pertanian daerah melalui dua produk unggulan, yakni Nasi Jagung Instan Pro Sae dan produk olahan tempe berbasis pangan sehat Omah Tempe Probolinggo.
“Inovasi kami memanfaatkan jagung dan kedelai dari petani lokal sehingga mampu memperkuat rantai nilai pertanian daerah,” ujar instuktur PC IPNU Kota Probolinggo tersebut.
Produk PRO SAE menjadi pembeda karena menghadirkan nasi jagung instan atau bu’uk—sebutan dalam bahasa Madura—yang cukup diseduh sebelum dikonsumsi. Berbeda dengan nasi jagung konvensional yang harus dikukus terlebih dahulu, inovasi ini menawarkan kepraktisan tanpa meninggalkan cita rasa pangan lokal.
Selain lebih praktis, nasi jagung juga memiliki kandungan gula yang lebih rendah sehingga menjadi alternatif pangan yang lebih sehat bagi masyarakat.
Tidak hanya berhenti pada produksi, Rudi juga menjalankan berbagai kegiatan pendukung, mulai dari edukasi mengenai pangan sehat, pelibatan pelaku UMKM, hingga pemasaran digital agar produk lokal memiliki daya saing yang lebih luas.
“Kegiatannya meliputi produksi olahan, edukasi pangan sehat, pelibatan UMKM, dan pemasaran digital. Dari kegiatan ini diharapkan muncul lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan masyarakat, meningkatkan kesadaran gizi, memperkuat ketahanan pangan, sekaligus memperkuat rantai nilai lokal,” katanya.

Pembinaan dari Pemerintahan Kelurahan Pohsangit Kidul dan Ketua Ekraf Kota Probolinggo pada 8 Juni 2026
Atas prestasi tersebut, Rudi memperoleh hadiah pembinaan sebesar Rp 1,5 juta. Dana itu tidak akan digunakan untuk kepentingan pribadi, melainkan diinvestasikan untuk membeli alat pengering jagung yang lebih modern.
Menurutnya, alat tersebut akan sangat membantu proses produksi, terutama ketika cuaca tidak menentu sehingga proses pengeringan jagung tidak lagi bergantung pada panas matahari.
Bagi Pria 26 ini, penghargaan ini bukanlah garis akhir. Ia berharap semakin banyak generasi muda yang ikut terlibat dalam mengembangkan pangan lokal sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional.
Ia menilai, kecenderungan anak muda mengonsumsi junk food perlu diimbangi dengan gerakan bersama untuk kembali mencintai makanan sehat berbahan baku lokal.
Rudi juga berharap pemerintah terus memperkuat dukungan kepada pelaku UMKM pangan lokal melalui bantuan permodalan, pelatihan dan pendampingan usaha, kemudahan perizinan, serta perluasan akses pasar.
“Kalau pangan lokal terus dikembangkan bersama, bukan hanya masyarakat yang mendapatkan pilihan makanan yang lebih sehat, tetapi petani, UMKM, dan perekonomian daerah juga akan ikut tumbuh,” pungkasnya.
- Penulis: Moch. PutraVikry Romadhoni
- Editor: M Rizal Wahyudi