Terbaru
light_mode
Beranda » Keislaman » Islam dan Budaya: Menakar Batas Kelenturan Teks dalam Realitas Tahlilan Di Masyarakat

Islam dan Budaya: Menakar Batas Kelenturan Teks dalam Realitas Tahlilan Di Masyarakat

  • account_circle Ulil Hadi Ernanda P
  • calendar_month Sabtu, 4 Jul 2026
  • visibility 150
  • print Cetak

Perdebatan hukum terkait tahlilan di Indonesia seolah menjadi lingkaran tanpa ujung.

Konflik teologis tradisionalis (Nahdlatul Ulama/NU) dan puritan (Wahabi/Salafi) tidak menemukan titik temu.

​akan tetapi ada satu benang merah yang menarik untuk dikritisi yaitu :

sejauh mana teks keagamaan harus tunduk pada kenyataan budaya, begitupun sebaliknya?

​Kekakuan Tekstual dan Kelenturan Budaya berangkat dari premis normatif dengan dalil

Layanan Pelanggan dan Layanan Pelanggan

(Setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka)

Narasi yang dibangun adalah orisinilitas beragama.

Kelompok puritan memandang tahlilan secara sinkretis— jiplakan dari tradisi Hindu kuno yang hanya diganti “bajunya”.

Ditambah lagi, argumen mengenai beban ekonomi bagi sohibul musibah (keluarga yang sujud).

Namun, kelemahan mendasar kelompok puritan adalah ketidakmampuan melihat aspek transformasi nilai.

​Dihadirkannya kelompok tradisionalis (NU) unggul secara kontekstual.

Dengan sangat taktis, mereka membekukan argumentasi tasyabbuh (menyerupai kaum lain) menggunakan sejarah dakwah Walisongo dan analogi puasa Tasu’a-Asyura.

Esensi dari argumen NU yaitu budaya merupakan wadah, sedangkan Islam merupakan isinya.

Ketika wadah yang awalnya digunakan untuk ritual Hindu atau kumpul-kumpul tanpa arah diisi dengan kalimat thayyibah, ayat Al-Qur’an, dan sedekah, maka substansi wadah tersebut otomatis berubah.

Di dalam kitab al funun

الْخُرُوجُ مِنْ عَادَاتِ النَّاسِ إلَّا فِي الْحَرَامِ

“Tidak sebaiknya keluar dari adat (kebiasaan-kebiasaan) masyarakat kecuali itu adat2 yg dilarang (harom)

Sehingga sangat jelas ketika kelompok tradisonalis (NU) dalam melaksanakan sesuatu yang muncul karena kebiasaan, akan terus berlanjut serta membingkai dengan tindakan atau bacaan-bacaan toyyibah.

Selain itu juga, persetujuan kelompok puritan yang berkaitan dengan ekonomi bagi sohibul musibah hanya dapat dilihat dalam satu arah.

Ketika melihat fakta di masyarakat suguhan/jamuan sejatinya bukan merupakan kewajiban yang harus ada.

Sejatinya tradisi tahlilan di masyarakat untuk menjaga silaturahmi dan saling menguatkan agar keluarga yang ditinggal terhibur dan senang karena adanya ritual doa bagi almarhum.

  • Penulis: Ulil Hadi Ernanda P
  • Editor: Ahmda Ridho

Rekomendasi Untuk Anda

  • 5 Rekomendasi Munas-Konbes NU 2026 Terkait Pendidikan

    5 Rekomendasi Munas-Konbes NU 2026 Terkait Pendidikan

    • calendar_month Sabtu, 27 Jun 2026
    • account_circle Boy Ardiansyah
    • visibility 198
    • 0Komentar

    Komitmen Nahdlatul Ulama dalam memperkuat pendidikan berbasis masyarakat kembali ditegaskan melalui Sidang Pleno III Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2026. Dalam sidang yang berlangsung di Aula Induk Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Kediri, pada Senin (22/6/2026), peserta secara resmi mengesahkan rumusan Komisi Rekomendasi mengenai peningkatan kualitas pendidikan berbasis masyarakat yang berkelanjutan. Sidang dipimpin langsung oleh […]

  • Jejak Suri Teladan Santri: dari Kiai, Pesantren, hingga Karakter yang Dibawa Pulang

    Jejak Suri Teladan Santri: dari Kiai, Pesantren, hingga Karakter yang Dibawa Pulang

    • calendar_month 25 menit yang lalu
    • account_circle admin
    • visibility 23
    • 0Komentar

    Ada sesuatu yang tidak tertulis dalam ijazah seorang santri. Ia tidak selalu tampak dalam daftar nilai, tidak selalu dapat dihitung dari jumlah kitab yang dikhatamkan, dan tidak pula cukup diukur dari banyaknya ayat atau hadis yang dihafal. Namun sesuatu itu akan terlihat ketika seorang santri pulang: cara ia berbicara kepada orang tua, menghormati guru, memperlakukan […]

  • Dukung Kaderisasi IPNU-IPPNU, Kepala MA Hidayat Minta Pendampingan Rutin Tiap Bulan

    Dukung Kaderisasi IPNU-IPPNU, Kepala MA Hidayat Minta Pendampingan Rutin Tiap Bulan

    • calendar_month Selasa, 14 Jul 2026
    • account_circle Anas Fathullah
    • visibility 1.184
    • 0Komentar

    PROBOLINGGO, – Langkah Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kota Probolinggo dalam memperkuat kualitas kader di tingkat pelajar mendapat respons positif dari kalangan pendidikan. Kepala MA Hidayat Kanigaran, Supat, menyatakan dukungan penuhnya terhadap penguatan wawasan keorganisasian bagi para siswa di madrasah setempat. Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri acara Sosialisasi Wawasan Ke-IPNU-an yang digelar […]

  • KH Abdur Rozaq Wafat, Ketua PCNU Ajak Kader Teladani Spirit Perjuangan Almarhum

    KH Abdur Rozaq Wafat, Ketua PCNU Ajak Kader Teladani Spirit Perjuangan Almarhum

    • calendar_month Jumat, 10 Jul 2026
    • account_circle M Rizal Wahyudi
    • visibility 368
    • 0Komentar

    PROBOLINGGO – Wafatnya KH Abdur Rozaq memantik rasa duka yang mendalam tidak hanya di tingkat kecamatan, tetapi juga di jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU). Ketua PCNU, H Arbai Hasan, menyampaikan rasa kehilangan yang sangat besar atas berpulangnya salah satu kader ulama terbaiknya. Jumat (10/07/2026) ​”Kami atas nama keluarga besar PCNU menyampaikan takziah dan rasa […]

  • Amin Said Husni

    PBNU Matangkan Daftar Peserta Sementara Muktamar Ke-35 NU

    • calendar_month Jumat, 3 Jul 2026
    • account_circle Anas Fathullah
    • visibility 262
    • 0Komentar

    Jakarta, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tengah melakukan proses finalisasi terhadap kepesertaan Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan bakal berlangsung pada 1 hingga 5 Agustus 2026 mendatang. Saat ini, PBNU telah resmi menyusun Daftar Peserta Sementara (DPS). Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Umum PBNU, KH Amin Said Husni, usai menghadiri Rapat Harian Tanfiziah di Gedung […]

  • Ketua PC GP Ansor Kota Probolinggo: Klaim Anak Nahdliyin Palsu, PAN Justru Partai Anti Nahdliyin

    Ketua PC GP Ansor Kota Probolinggo: Klaim Anak Nahdliyin Palsu, PAN Justru Partai Anti Nahdliyin

    • calendar_month Minggu, 6 Sep 2026
    • account_circle Anas Fathullah
    • visibility 453
    • 0Komentar

    PROBOLINGGO – Manuver Partai Amanat Nasional (PAN) yang kerap mengeklaim diri sebagai wadah bagi kalangan muda Nahdlatul Ulama (NU), bahkan memelesetkan kepanjangannya menjadi “Partai Anak Nahdliyin”, menuai kritik tajam. Langkah politik tersebut dinilai ahistoris dan sarat dengan pragmatisme elektoral menjelang kontestasi politik. Ketua PC GP Ansor Kota Probolinggo, Salamul Huda, menegaskan bahwa klaim tersebut sangat […]

expand_less