Islam dan Budaya: Menakar Batas Kelenturan Teks dalam Realitas Tahlilan Di Masyarakat
- account_circle Ulil Hadi Ernanda P
- calendar_month 15 jam yang lalu
- visibility 23
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Perdebatan hukum terkait tahlilan di Indonesia seolah menjadi lingkaran tanpa ujung.
benturan teologis tradisionalis (Nahdlatul Ulama/NU) dan puritan (Wahabi/Salafi) tidak menemukan titik temu.
akan tetapi ada satu benang merah yang menarik untuk dikritisi yaitu :
sejauh mana teks keagamaan harus tunduk pada realitas kultural, begitupun sebaliknya?
Kekakuan Tekstual dan Kelenturan Budaya berangkat dari premis normatif dengan dalil
كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ
(Setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka)
Narasi yang dibangun adalah orisinalitas beragama.
Kelompok puritan memandang tahlilan secara sinkretis— jiplakan dari tradisi Hindu kuno yang sekadar diganti “bajunya.”
Ditambah lagi, argumen mengenai beban ekonomi bagi sohibul musibah (keluarga yang berduka).
Akan tetapi, kelemahan mendasar kelompok puritan adalah ketidak mampuan melihat aspek transformasi nilai.
Di sinilah kelompok tradisionalis (NU) unggul secara kontekstual.
Dengan sangat taktis, mereka membalikkan argumen tasyabbuh (menyerupai kaum lain) menggunakan sejarah dakwah Walisongo dan analogi puasa Tasu’a-Asyura.
Esensi dari argumen NU yaitu budaya merupakan wadah, sedangkan Islam merupakan isinya.
Ketika wadah yang awalnya digunakan untuk ritual Hindu atau kumpul-kumpul tanpa arah diisi dengan kalimat thayyibah, ayat Al-Qur’an, dan sedekah, maka substansi wadah tersebut otomatis berubah.
Di dalam kitab al funun
لا يَنْبَغِي الْخُرُوجُ مِنْ عَادَاتِ النَّاسِ إلَّا فِي الْحَرَامِ
“Tidak sebaiknya keluar dari adat (kebiasaan-kebiasaan) masyarakat kecuali itu adat2 yg dilarang (harom)
Sehingga sangat jelas ketika kelompok tradisonalis (NU) dalam melaksanakan sesuatu yang muncul karena kebiasaan, akan tetap dilanjutkan serta membingkai dengan tindakan atau bacaan-bacaan toyyibah.
Selain itu juga, keberatan kelompok puritan berkaitan dengan ekonomi bagi sohibul musibah hanya di pandang dalam satu arah.
Ketika melihat fakta di masyarakat suguhan/jamuan sejatinya bukan merupakan kewajiban yang harus ada.
- Penulis: Ulil Hadi Ernanda P
- Editor: Ahmda Ridho