Respon Era Post-Truth, Ansor Triwung Lor Gelar Ngaji Seni dan Budaya
- account_circle Ulil Hadi Ernanda P
- calendar_month Rabu, 29 Jul 2026
- visibility 2.339
- print Cetak

PROBOLINGGO – Gerakan Pemuda Ansor Ranting Triwung Lor menggelar agenda
Ngaji Seni dan Budaya bertajuk “Harokah Pemuda Aswaja di Era Algoritma” yang dipusatkan di Pondok Pesantren Nurul Islam, Kademangan, Kota Probolinggo. Rabu (29/07/2026) malam.
Kegiatan berlangsung khidmat sekaligus hangat ini dihadiri langsung oleh Ketua PC GP Ansor Kota Probolinggo, Ketua PC PMII, serta Ketua PC IPNU dan IPPNU Kota Probolinggo. Beserta ratusan peserta yang terdiri dari kaum pemuda Nahdliyin.
Kegiatan yang secara resmi dibuka oleh Ketua PC GP Ansor Kota Probolinggo, Sahabat Salamul Huda, menyampaikan dukungan serta apresiasi kepada GP Ansor Triwung lor. Karena mampu mengadakan kegiatan ngaji seni dan budaya. Bahkan narasumber yang akan menyampaikan memiliki kapasitas mengempuni serta merupakan tokoh nasional.
“Saya sangat senang ketika ada ranting mampu mengadakan kegiatan semacam ini, bukan hanya menghidupkan roda organisasi akan tetapi mampu membaca zaman yang mana pada era saat ini merupakan era post truth, saya berharap ranting yang lain juga turut aktif mengadakan kegiatan diskusi seperti ini,” Ujarnya
Dalam kesempatan tersebut pula, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam, Romo Kyai Mukhlas, menyampaikan rasa bangga dan kebahagiaannya karena pesantrennya menjadi tuan rumah kegiatan badan otonom (Banom) Nahdlatul Ulama yaitu Ansor tingkat ranting.
Kyai Mukhlas yang juga merupakan aktivis IPNU di era KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) membagikan kenangan historisnya bersama Nahdlatul Ulama.
“Saya sangat senang ketika pondok ini ditempati oleh kegiatan NU, Saya dulu pada zamannya Gus Dur merupakan aktifis IPNU, bahkan ketika Gus Dur dilengserkan, saya ikut berangkat ke Jakarta saat itu,” kenang Kyai Mukhlas.
Ngaji seni dan budaya ini menghadirkan dua narasumber, yakni Dosen Universitas Nurul Jadid sekaligus praktisi media, Muhammad Iqbal, dan Mudir Ma’had Aly Nurul Jadid, Lora Muhammad Al Fayyadl, M.Fil.
Dalam pemaparan pertamanya, Muhammad Iqbal membedah realitas penetrasi teknologi dan algoritma media sosial. Ia membeberkan data perkembangan digital di Indonesia yang tumbuh sangat pesat.
Penetrasi internet di Indonesia pada tahun 2025 mencapai 80,66 % dan pada pertengahan tahun 2026 ini sudah menyentuh angka 81,76 %.
“Jika diandaikan dari populasi 10 orang penduduk Indonesia, maka 8 di antaranya sudah aktif menggunakan internet,” jelas Iqbal.
Menurutnya, pemuda Nahdliyin harus memahami cara kerja algoritma agar tidak sekadar menjadi konsumen pasif, melainkan mampu mewarnai ruang digital dengan konten keagamaan yang ramah dan menyejukkan.
Senada dengan hal tersebut, Lora Muhammad Al Fayyadl menekankan pentingnya kader muda Aswaja untuk adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa mencabut akar keilmuan tradisi.
Ia menegaskan bahwa menguasai teknologi adalah keniscayaan dakwah masa kini. Lora Fayyadl mengutip pandangan salah satu ulama terkemuka dari era Tabi’in, Said bin Musayyib, tentang pentingnya kesadaran zaman.
“Wajib bagi orang yang berakal untuk melek dan memahami keadaan zamannya. Era perkembangan teknologi harus diikuti, jangan sampai kita tertinggal,” tegas Lora Fayyadl.
Melalui agenda diskusi ini, GP Ansor Ranting Triwung Lor berharap para kader muda Nahdliyin dapat merajut kembali gerakan kebudayaan yang berlandaskan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah, sekaligus lincah dalam berselancar dan mendominasi narasi positif di era digital.
- Penulis: Ulil Hadi Ernanda P
- Editor: Ahmda Ridho