Kyai Syamhadi Syam: Penjual Tempe Keliling Peraih Penghargaan Pengabdian Terpanjang NU
- account_circle M Rizal Wahyudi
- calendar_month Minggu, 12 Jul 2026
- visibility 177
- print Cetak

Di Jrebeng Kulon, Kota Probolinggo, sosok Kyai Syamhadi Syam adalah definisi nyata dari sebuah ketulusan. Di kelurahan yang dikenal sebagai salah satu basis kuat Nahdlatul Ulama (NU) ini, beliau bukan tipe tokoh agama yang hanya duduk diam menunggu dihormati. Lebih dari sekadar pemuka agama setempat, beliau mengemban amanah besar memimpin jalannya roda organisasi dan merawat jamaah sebagai Rois Syuriah MWC NU Kecamatan Kedopok.
Dedikasinya yang tanpa jeda dalam menjaga marwah NU di Kecamatan Kedopok membawa beliau berdiri di panggung terhormat pada momen Hari Santri Nasional lalu. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Probolinggo menganugerahkan Piagam Penghargaan sebagai “Kader dengan Pengabdian Terpanjang & Tidak Terputus”. Penghargaan yang ditandatangani oleh Ketua PCNU H. Arba’i Hasan dan Satgas Kaderisasi Ahmad Fais itu diserahkan langsung di Halaman Klinik NU Kota Probolinggo.
Namun, jika kita mengintip tirai kehidupan harian beliau, kita akan menemukan rahasia mengapa jabatan struktural dan penghargaan itu begitu layak jatuh ke tangan sang kyai.
Kehidupan Kyai Syamhadi dimulai saat langit masih pekat dan sunyi. Pukul 02.30 dini hari, ketika sebagian besar orang masih terlelap, beliau sudah terbangun untuk bersujud di atas sajadah shalat malam. Selesai mengetuk pintu langit, pukul 03.00 subuh beliau langsung turun ke dapur. Tangannya dengan telaten mencuci kedelai dan mengolahnya di atas tungku api selama hampir tiga jam.
Menjelang subuh, saat kedelai masih digodok di atas bara api, beliau bergegas membersihkan diri untuk shalat subuh berjamaah. Begitu salam diucapkan, pukul 04.30 beliau kembali lagi ke dapur untuk proses pembersihan kedelai tahap kedua.
Tepat pukul 05.30 pagi, petualangan harian berikutnya dimulai. Menggunakan sepeda motornya, Kyai Syamhadi membelah jalanan pagi, keliling menjajakan tempe buatannya sendiri hingga sekitar pukul 08.00 WIB.
Setelah urusan tempe beres, tidak ada kata santai. Kecuali jika ada undangan formal keorganisasian untuk mengurus NU di Kecamatan Kedopok atau undangan keagamaan lainnya, beliau akan langsung memacu motornya menuju sawah. Di sana, beliau menjelma menjadi petani yang akrab dengan lumpur hingga menjelang dzuhur. Pulang dari sawah, beliau bebersih diri dan menyambut adzan Dzuhur. Selepas shalat, proses pembuatan tempe berlanjut kembali, kedelai yang sudah matang ditaburi ragi untuk proses fermentasi hingga sekitar pukul 13.30 WIB. Setelah itu, barulah beliau mengambil jeda untuk istirahat sejenak.
Sore hari menjelang Asar, beliau kembali bersih-bersih untuk shalat. Sebagai pengikut setia Thoriqoh Attijani, selepas Asar adalah waktu sakral bagi beliau untuk khusyuk menjalankan amalan wadzifah thoriqoh. Selesai berdzikir, sekitar pukul 15.30 hingga menjelang Maghrib, beliau beralih menyingsingkan lengan baju untuk membersihkan halaman belakang rumah sambil telaten merawat kambing-kambing peliharaannya.
Ketika malam tiba, energi pemimpin tertinggi (Syuriah) NU di tingkat kecamatan ini kembali seutuhnya untuk umat. Dari Maghrib, Isya, bahkan tak jarang hingga pukul 22.00 WIB, beliau keliling dari rumah ke rumah warga di Jrebeng Kulon untuk memimpin kegiatan keagamaan, mulai dari Sarwah Tahlil, Yasinan, Khotmil Qur’an, hingga mengawal jalannya organisasi untuk memastikan NU di Kedopok tetap kokoh dan terawat dengan baik.
Karakter kuat yang melekat pada diri Kyai Syamhadi tidak tumbuh begitu saja. Kedisiplinan beribadah, kemandirian dalam ekonomi, dan loyalitasnya pada organisasi ternyata berakar kuat dari tempaan masa lalunya di dunia pesantren. Beliau adalah alumni dari salah satu pesantren tua dan mencetak banyak ulama besar, Pondok Pesantren Sidogiri, serta aktif bergerak dalam wadah Ikatan Alumni Santri Sidogiri (IASS).
Jiwa santri Sidogiri itulah yang membuatnya selalu membumi. Menjadi nakhoda spiritual NU di Kecamatan Kedopok tidak membuatnya luntur hanya karena tangan yang kasar akibat mencuci kedelai atau baju yang berbau matahari sepulang dari sawah. Beliau mempraktikkan langsung arti Khidmah melayani umat dan merawat organisasi dengan ikhlas tanpa harus kehilangan kemandirian ekonomi.
Nilai-nilai kehidupan yang luar biasa ini selalu beliau wariskan kepada anak-anaknya. Sebagai seorang ayah sekaligus guru, nasihat yang paling sering beliau dengungkan adalah kalimat mendalam yang menjadi kompas hidup:
Jangan takabur. Berorganisasilah, wabilkhusus di Nahdlatul Ulama dan organisasi pondok pesantren, insyaAllah kamu akan sukses. Dan sebagai santri, tetap jaga dan sambung terus ikatan dengan para guru-guru yang telah mendidikmu, insyaAllah selamat dunia akhirat.
Melalui deru mesin sepeda motor penjemput rezeki dan lantunan doa yang tak pernah putus, Kyai Syamhadi Syam telah menulis cerita tentang arti santri sejati. Piagam dari PCNU mungkin adalah bentuk apresiasi di atas kertas, namun di hati warga Kedopok, ketulusannya dalam merawat NU dari akar rumput serta keteguhannya menjaga sanad keguruan adalah penghargaan yang sesungguhnya. Seorang kiai yang membumi dalam kehidupan, namun melangit dalam pengabdian.
- Penulis: M Rizal Wahyudi
- Editor: Moch. Putra Vikry Romadhoni