Syarah Kitab Maulid di Majelis Rehat, Kiai Muhtarom Uraikan Keagungan Fisik hingga Keberkahan Rasulullah
- account_circle M Rizal Wahyudi
- calendar_month Senin, 27 Jul 2026
- visibility 155
- print Cetak

PROBOLINGGO – Keagungan dan kemuliaan Nabi Muhammad SAW tidak hanya terpancar dari akhlaknya yang agung, tetapi juga melekat pada keindahan fisik hingga keberkahan yang terpancar dari seluruh gerak-gerik beliau. Hal tersebut diuraikan secara mendalam oleh Kiai Muhtarom saat mengisi kegiatan rutinan Majelis Rehat pada Senin (27/7/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Kiai Muhtarom memaparkan syarah bait demi bait kitab Maulid Diba’ yang menggambarkan keindahan sosok Rasulullah SAW. Salah satunya adalah ungkapan Fajriyyul Jabini, yang bermakna bahwa dahi dan wajah Rasulullah SAW memancarkan cahaya terang bagaikan fajar. Cahaya tersebut bahkan sanggup menerangi kegelapan tanpa bantuan lampu.
“Rambut beliau sangat hitam pekat bagaikan malam (Lailiyyuzd Dzawa’ibi), bentuk hidungnya mancung dan indah pas bagaikan huruf Alif (Alifiyyul Anfi), bibirnya indah bagaikan huruf Mim (Mimiyyul Fami), dan alis matanya melengkung elok seperti huruf Nun (Nuniyyul Hajibi),” terang Kiai Muhtarom.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa meski Nabi Yusuf AS dianugerahi separuh ketampanan dunia, ketampanan Rasulullah SAW berada pada tingkatan yang jauh lebih tinggi. Namun, Allah membungkus ketampanan Rasulullah dengan haibah (kewibawaan) dan mahabah (penghormatan), sehingga orang yang memandangnya tidak sampai terfitnah.
Selain keindahan fisik, pembahasan dalam rutinan Majelis Rehat kali ini juga mengulas tajamnya pendengaran dan penglihatan Nabi SAW yang sanggup menembus tujuh lapisan langit hingga mendengar guratan pena yang menulis di Lauh Mahfuzh.
Kiai Muhtarom turut mengisahkan kecintaan para makhluk kepada Rasulullah SAW. Salah satu peristiwa bersejarah adalah rintihan pelepah kurma (jidz’u). Batang kurma yang semula menjadi sandaran khotbah Nabi itu menangis bagaikan anak kecil saat digantikan oleh mimbar baru. Rasulullah SAW lantas memeluk dan mengelusnya hingga tenang.
“Peristiwa ini mengajarkan kita untuk tidak melupakan jasa dan sejarah, baik itu jasa manusia maupun benda mati yang pernah membawa kemanfaatan,” tuturnya.
Suasana rutinan yang khidmat tersebut diakhiri dengan pemaparan tentang keberkahan tangan Nabi, seperti kisah Sahabat Jabir RA saat Perang Khandaq dan Sahabat Abu Hurairah RA bersama para Ashabus Suffah. Makanan dan minuman yang jumlahnya sangat sedikit bisa mencukupi ratusan hingga ribuan sahabat hingga kenyang atas izin Allah melalui perantara sentuhan Rasulullah SAW.
- Penulis: M Rizal Wahyudi
- Editor: Ahmda Ridho