Terbaru
light_mode
Beranda » Warta » Banom » PMII » Reposisi Identitas di Ruang Kolektif: PK PMII Djoyolelono V Resmi Dilantik, Teguhkan Komitmen sebagai Mitra Kritis dan Strategis Pemerintah

Reposisi Identitas di Ruang Kolektif: PK PMII Djoyolelono V Resmi Dilantik, Teguhkan Komitmen sebagai Mitra Kritis dan Strategis Pemerintah

  • account_circle Anas Fathullah
  • calendar_month Sabtu, 18 Jul 2026
  • visibility 211
  • print Cetak

Probolinggo, Pengurus Komisariat (PK) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Djoyolelono ke-V resmi dilantik di Pendopo Prasaja Ngesti Wibawa, Kabupaten Probolinggo. (18/Juli/2026)

Dengan mengusung tema “Reposisi Identitas di Ruang Kolektif”, pelantikan tersebut menjadi momentum sakral untuk meneguhkan kembali arah gerak organisasi dalam memperkuat kaderisasi, merawat tradisi intelektual, serta memperkokoh peran PMII sebagai mitra kritis sekaligus mitra strategis pemerintah dalam pembangunan daerah.

Prosesi pelantikan dihadiri langsung oleh jajaran Pemerintah Kabupaten Probolinggo, tokoh masyarakat, para senior dan alumni PMII, organisasi kepemudaan, akademisi, serta kader PMII dari berbagai rayon dan komisariat.

Kehadiran berbagai elemen tersebut menunjukkan bahwa PMII Djoyolelono terus memperoleh kepercayaan sebagai organisasi mahasiswa yang konsisten melahirkan kader-kader intelektual dan memiliki kepedulian terhadap persoalan masyarakat.

Tema yang usung juga sebagai dasar refleksi atas tantangan zaman yang semakin kompleks. Di tengah perubahan sosial, politik, dan teknologi yang bergerak begitu cepat.

Sehingga PMII perlu meneguhkan kembali identitasnya sebagai organisasi kader yang tidak hanya menjaga nilai-nilai dasar pergerakan, tetapi juga mampu membangun ruang kolaborasi, melahirkan gagasan, serta menghadirkan solusi atas berbagai persoalan umat dan bangsa.

Dalam sambutannya, Sekretaris Daerah Kabupaten Probolinggo, Abdul Ghofur, yang mewakili Bupati Probolinggo, memberikan apresiasi atas terselenggaranya pelantikan tersebut. Ia menegaskan bahwa organisasi kemahasiswaan, khususnya PMII, merupakan mitra strategis pemerintah dalam mendorong pembangunan daerah.

“Pemerintah membutuhkan keterlibatan generasi muda dalam memberikan gagasan, kritik yang konstruktif, serta inovasi untuk memperkuat kualitas pelayanan publik dan pembangunan daerah. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah dan organisasi kemahasiswaan perlu terus dibangun sebagai bagian dari upaya mewujudkan tata kelola pemerintahan yang lebih partisipatif” ujarnya.

Sementara itu, Ketua PC PMII Kabupaten Probolinggo, Sahabat Dedy, menegaskan bahwa karakter utama PMII adalah keberanian menyampaikan kritik yang berbasis pada kepentingan masyarakat. Sehingga kedekatan organisasi dengan pemerintah tidak boleh dimaknai sebagai hilangnya independensi maupun daya kritis kader.

Ia bahkan memberikan ruang seluas-luasnya kepada seluruh komisariat di bawah naungan PC PMII Kabupaten Probolinggo untuk membangun komunikasi langsung dengan pemerintah apabila terdapat persoalan yang harus diperjuangkan.

“Semua komisariat boleh beraudiensi langsung dengan pemerintah. Silakan menyampaikan kritik, gagasan, maupun aspirasi. Namun komunikasi harus dibangun dengan baik, membawa data yang jelas, argumentasi yang kuat, dan tetap menawarkan solusi. PMII harus hadir sebagai mitra kritis, bukan sekadar pengkritik.” Tegasnya.

Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa kritik yang dibangun PMII harus berangkat dari kajian ilmiah dan keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat, bukan sekadar narasi tanpa dasar.

Ketua Ikatan Alumni (IKA) PMII Djoyolelono, Sahabat Muhammad Ali, dalam kesempatan yang sama mengingatkan seluruh kader agar tidak kehilangan sensitivitas sosial. Menurutnya, kader PMII tidak boleh larut dalam rutinitas organisasi hingga melupakan realitas masyarakat yang menjadi ruh perjuangan PMII sejak awal berdiri.

“Jangan sampai kader PMII terlihat apatis terhadap isu-isu yang terjadi di sekitar kita. Organisasi ini lahir dari semangat keberpihakan kepada masyarakat. Karena itu, kepekaan sosial harus terus dijaga dan diwujudkan dalam tindakan nyata.”

Senada dengan hal tersebut, Majelis Pembina Komisariat (Mabinkom) PK PMII Djoyolelono, Sahabat Khoiruddin, mengajak kepengurusan baru untuk menjaga keberlangsungan organisasi. Menurutnya, tantangan yang dihadapi organisasi hari ini jauh lebih kompleks dibandingkan masa-masa sebelumnya, sehingga dibutuhkan komitmen yang kuat dalam merawat kaderisasi dan kesinambungan perjuangan.

“Djoyolelono harus terus berkembang. Jangan sampai perjuangan ini putus di tengah jalan, karena tantangan yang kita hadapi hari ini semakin kompleks. Organisasi hanya akan besar apabila seluruh kader memiliki komitmen untuk menjaga dan melanjutkan perjuangan.”

Menutup rangkaian sambutan, Ketua PK PMII Djoyolelono ke-V yang baru dilantik, Sahabat Nur Kholis Majid, menyampaikan bahwa amanah kepemimpinan bukanlah tentang siapa yang paling unggul, melainkan tentang kesiapan melanjutkan estafet perjuangan yang telah dibangun oleh para pendahulu.

Dengan penuh haru, ia menyampaikan bahwa kepercayaan yang diterimanya merupakan amanah kolektif yang harus dijaga bersama.

“Hari ini saya berdiri di hadapan sahabat-sahabat semua bukan karena saya adalah orang yang paling hebat. Saya hanyalah seorang kader yang dipercaya untuk menjaga api perjuangan yang telah dinyalakan oleh para pendahulu PK PMII Djoyolelono. Api itu tidak boleh padam, karena di sanalah hidup cita-cita, harapan, dan arah perjuangan organisasi.”

Mengacu pada tema pelantikan, ia menegaskan bahwa identitas PMII bukan sekadar atribut organisasi, melainkan nilai yang harus terus dihidupkan melalui kaderisasi, pengabdian, dan keberpihakan kepada masyarakat.

“Hari ini identitas itu harus diperjuangkan dan harus dirawat. Sebab identitas bukan hanya tentang nama atau simbol, melainkan tentang nilai yang kita hidupi, prinsip yang kita perjuangkan, dan keberanian kita untuk tetap hadir di tengah masyarakat. Ketika identitas kehilangan makna, organisasi hanya akan menjadi nama tanpa arah.”

Pelantikan PK PMII Djoyolelono ke-V bukan sekadar seremoni pergantian kepengurusan. Lebih dari itu, momentum ini menjadi penanda dimulainya babak baru perjuangan organisasi untuk memperkuat tradisi intelektual, memperluas ruang kolaborasi, serta membangun kader-kader yang adaptif tanpa kehilangan jati diri pergerakannya.

Melalui semangat “Reposisi Identitas di Ruang Kolektif”, PK PMII Djoyolelono meneguhkan komitmennya untuk terus menjadi ruang kaderisasi yang melahirkan pemimpin-pemimpin muda yang kritis, berintegritas, dan berdaya saing. Di tengah dinamika zaman yang terus berubah, PMII Djoyolelono bertekad menjaga api perjuangan yang telah diwariskan para pendahulu, merawat identitas organisasi, serta menghadirkan gagasan dan aksi nyata sebagai bentuk pengabdian kepada agama, bangsa, dan masyarakat.

  • Penulis: Anas Fathullah
  • Editor: Dinastiya Iriani

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tantangan NU di Daerah Urban, PCNU Kota Probolinggo Tekankan Keikhlasan Berkhidmat

    Tantangan NU di Daerah Urban, PCNU Kota Probolinggo Tekankan Keikhlasan Berkhidmat

    • calendar_month Sabtu, 4 Jul 2026
    • account_circle M Rizal Wahyudi
    • visibility 312
    • 0Komentar

    PROBOLINGGO – Ketua PCNU Kota Probolinggo H. Arba’i Hasan menekankan pentingnya keikhlasan dalam berkhidmat untuk membesarkan NU. Hal ini dinilai krusial, terutama saat menggerakkan roda organisasi dan menyebarkan syiar Islam ala Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah di wilayah perkotaan (urban) seperti Kelurahan Jati. Pesan itu disampaikan saat menghadiri kegiatan Lailatul Ijtima’ di kelurahan Jati. Minggu, (04/06/2026). […]

  • GP Ansor Kota Probolinggo Minta Partai politik Berjihad Perjuangkan Gaji Guru Ngaji

    GP Ansor Kota Probolinggo Minta Partai politik Berjihad Perjuangkan Gaji Guru Ngaji

    • calendar_month Sabtu, 25 Jul 2026
    • account_circle Ulil Hadi Ernanda P
    • visibility 2.306
    • 0Komentar

    PROBOLINGGO – Ketimpangan kesejahteraan dan minimnya perhatian terhadap guru ngaji di Kota Probolinggo terus memantik keprihatinan publik. Padahal, para pendidik keagamaan ini memegang peran krusial sebagai benteng moral dan tonggak utama pembentukan karakter generasi penerus bangsa. Kabar mengenai rencana kenaikan honor guru ngaji sebesar 40 persen dinilai belum menyentuh akar persoalan. Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor […]

  • Dua Siswi MI NU Hidayatul Ula Raih Prestasi di Kejurkot Atletik Probolinggo 2026

    Dua Siswi MI NU Hidayatul Ula Raih Prestasi di Kejurkot Atletik Probolinggo 2026

    • calendar_month Selasa, 8 Sep 2026
    • account_circle Ulil Hadi Ernanda P
    • visibility 120
    • 0Komentar

    PROBOLINGGO – Prestasi membanggakan ditorehkan peserta didik MI NU Hidayatul Ula (Minuhu) Ketapang dalam ajang Kejuaraan Kota (Kejurkot) Atletik Probolinggo 2026. Dua siswi madrasah tersebut sukses menyabet medali pada nomor lari dan lompat jauh dalam kejuaraan yang digelar di Stadion Bayuangga, 7–8 September 2026. Prestasi pertama diraih oleh Aldea Balqis Ismail, siswi kelas 6 Bisrih […]

  • Wujud Solidaritas, GP Ansor Kota Probolinggo Serahkan Bantuan untuk Pedagang Tempe Korban Begal

    Wujud Solidaritas, GP Ansor Kota Probolinggo Serahkan Bantuan untuk Pedagang Tempe Korban Begal

    • calendar_month Sabtu, 1 Agt 2026
    • account_circle Ulil Hadi Ernanda P
    • visibility 157
    • 0Komentar

    PROBOLINGGO – Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Probolinggo melalui Pengurus Anak Cabang (PAC) GP Ansor Wonoasih merealisasikan komitmen kemanusiaannya dengan menyerahkan bantuan donasi secara langsung kepada Saudara Muhammad Sofi, pedagang tempe yang menjadi korban aksi pembegalan di kawasan Makam Cina, Kecamatan Wonoasih, beberapa waktu lalu. Penyerahan donasi tersebut berlangsung hangat di kediaman korban pada jum’at […]

  • Mahfud MD: Khittah Bukan Berarti NU Tak Boleh Berpolitik

    Mahfud MD: Khittah Bukan Berarti NU Tak Boleh Berpolitik

    • calendar_month Jumat, 28 Agt 2026
    • account_circle M Rizal Wahyudi
    • visibility 116
    • 0Komentar

    JOMBANG – Pakar hukum tata negara sekaligus tokoh nasional, Prof. Dr. Mohammad Mahfud MD, menegaskan bahwa prinsip Khittah 1926 hasil Munas NU 1984 kerap disalahartikan sebagai larangan bagi Nahdlatul Ulama untuk berpolitik. Menurutnya, Khittah menuntut NU netral dari afiliasi partai politik praktis, namun tetap wajib menjalankan peran politik kebangsaan. Hal tersebut disampaikan Mahfud MD dalam […]

  • Kiai Misbahul Munir, Ingatkan Warga NU Selektif Pilih Sekolah Anak

    Kiai Misbahul Munir, Ingatkan Warga NU Selektif Pilih Sekolah Anak

    • calendar_month Sabtu, 11 Jul 2026
    • account_circle M Rizal Wahyudi
    • visibility 309
    • 0Komentar

    PROBOLINGGO – Menjadi bagian dari Nahdlatul Ulama bukan sekadar urusan memegang Surat Keputusan (SK) atau menduduki jabatan struktural. Lebih dari itu, mengurus NU adalah panggilan ideologis dan wujud khidmah keummatan yang bisa dilakukan oleh setiap warga Nahdliyin di akar rumput. ​Pesan penguatan ideologi ini menjadi benang merah dalam “Ngaji Ke-NU-an” yang disampaikan oleh KH. Misbahul Munir. […]

expand_less