Soroti Dinamika Internal, Dewan Pengurus PP Annur Minta NU Kembalikan Marwah dan Independensi
- account_circle M Rizal Wahyudi
- calendar_month Jumat, 24 Jul 2026
- visibility 324
- print Cetak

PROBOLINGGO — Nahdlatul Ulama (NU) dinilai tengah menghadapi ujian berat pasca-Muktamar Ke-34 di Lampung. Salah satu dewan pengurus PP Annur Sumber Taman Gus Munir, menyoroti pergeseran dinamika internal organisasi yang dinilainya kian rentan terkooptasi oleh kepentingan politik praktis dan intrik kekuasaan.
Gus Munir mengungkapkan, pada awal masa kepengurusan pasca-Muktamar Lampung, NU sebenarnya menunjukkan optimisme dan arah kemajuan yang menjanjikan. Namun dalam perjalanannya, gelombang tekanan dan godaan politik dinilai membuat arah gerakk jam’iyyah sempat goyah.
“Dalam khazanah NU, perbedaan pandangan itu hal yang lazim dan lumrah. Perbedaan tidak pernah sampai membuat kapal NU oleng atau pecah,” kata Gus Munir saat ditemui jum’at, 23/07/2026
Ia mencontohkan dialektika sejarah saat terjadi perbedaan pandangan yang sangat tajam antara KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan KH. As’ad Syamsul Arifin hingga memunculkan sikap mufaroqoh dari Kiai As’ad. Menurutnya, perdebatan kala itu murni berakar pada prinsip kebangsaan dan cara pandang siyasah (politik adiluhung), bukn perebutan pengaruh.
“Perbedaan para ulama terdahulu bukan menyangkut pembagian ‘kue kekuasaan’ atau kepentingan materialistis. Itulah mengpa keutuhan NU tetap terjaga,” tegasnya.
Gus Munir menyayangkan fenomena yang muncul ke permukaan belakangan ini. Ia menilai perbedaan yang mengemuka lebih didorong oleh persoalan materialistis dan intrik kekuasaan pragmatis. Kondisi ini berisiko membuat NU mudah terhegemoni oleh berbagai kepentingan luar.
“Yang tampak saat ini, NU seolah menjadi bagian atau ingin menjadi bagian dari kekuasaan. Akibatnya, organisasi menjadi mudah terkooptasi dan kehilangan independensinya,” ujar Gus Munir
Ia mengingatkan bahwa keterikatan yang terlalu jauh dngan panggung kekuasaan dapat mengikis kewibawaan moral NU di mata warga Nahdliyin (jama’ah) maupun masyarakat luas.
Menyongsong Muktamar NU ke-35 yang akan datang, Gus Munir mengajak seluruh elemen Nahdliyin untuk melakukan refleksi dan koreksi mendalam atas perjalanan organisasi selama ini.
Ia berharap Muktamar mendatang dapat melahirkan kepemimpinan baru yang berintegritas dan mampu membawa NU kembali pada fungsi aslinya sebagai benteng moral bangsa.
“Kita merindukan NU yang mampu mendongakkan wajahnya dan lantang bersuara tentang kebenaran, membela ketidakadilan, serta menyuarakan ketimpangan ekonomi rakyat,” kata gus munir
Ia menambahkan, kekuatan utama NU terletak pada keyakinan terhadap keberkahan para muassis (pendiri), ulama, dan masyayikh dalam membela kepentingan jam’iyyah dan jama’ah.
“Semoga pada Muktamar mendatang terpilih sosok yang benar-benar mampu mengelola NU dengan kemampuan dan kekuatan sendiri, tanpa harus terkooptasi oleh kepentingan tertentu, serta mampu mengembalikan haibah (kewibawaan) dan marwah NU seperti semula,” pungkasnya.
- Penulis: M Rizal Wahyudi
- Editor: Ulil Hadi Ernanda Putra