Harlah Ansor dan Semangat Memperteguh Tiga Pilar Perjuangan

0
1

Dalam suasana pandemi dan Ramadlan, tidak menyurutkan semangat anak muda Nahdlatul Ulama yang dikenal enerjik yakni Gerakan Pemuda (GP) Ansor untuk memperingati hari lahirnya. Tulisan ini sebagai salah satu bentuk kehadiran dalam menyemarakkan peringatan harlah ke-87 tersebut.

Pada suatu ketika, sejumlah kader muda NU yang mengatasnamakan PNU (Pemuda Nadlatul Ulama) mendatangai KH Abdul Wahab Hasbullah Jombang. Tujuannya untuk konsultasi terkait dengan nama PNU sebagai simbol organisasi pemuda NU. Kiai Wahab, sang organisatoris NU yang selalu menjadi tempat keluh resah kaum muda sangat sadar atas keinginan tersebut, bahkan menghargai betul inisiatif yang dilakukan. Karena dalam benaknya, keberadaan kader muda adalah cerminan masa depan NU juga. Walau begitu, Kiai Wahab tetap kritis dengan menawarkan perubahan nama, yakni dengan mengganti kata ‘pemuda’ dengan kata ‘Ansor’. Ujungnya, jadilah yang ditawarkan kala itu adalah Ansor Nahlatul Ulama (ANU/ANO dengan ejaan lama).

Dialog di atas menunjukkan bahwa persoalan nama bukan sekadar pilihan, tapi berkaitan dengan cara pandang. Nama tidak hadir dalam ruang hampa sebab dalam dirinya ada impian, sekaligus doa dari pemberi nama. Bukankah Islam sangat memperhatikan betul kaitan dengan nama anak, ketika masih bayi. Karenanya ada perintah untuk memberikan nama anak dengan yang terbaik, dari mulai Abdullah, Abdurrahman (mengingatkan nama Abdurahman al-Dhahil), atau Muhammad,  Ahmad dan lain-lain. Hindari nama-nama yang kurang pantas, untuk tidak mengatakan jelek. Dengan memberikan nama yang terbaik, setidaknya ada harapan tertular kebaikan (tafa’ul).

Karenanya, tawaran Kiai Wahab mengganti kata pemuda dalam PNU dengan kata Ansor, cukup beralasan sekaligus memuat banyak harapan terhadap kader muda NU kaitannya dengan ideologi dan keberlangsungan perjuangan Ahllussunnah wal Jama’ah. Apalagi, secara normatif, Kiai Wahab mengaitkan kata Ansor dengan hawariyyun dalam kisah Nabi Isa AS yang termaktub dalam beberapa ayat dalam al-Qur’an, yaitu QS Ali Imran: 52, QS al-Maidah:111-112, dan QS Al-Shaf; 14.

Sekilas penjelasan ayat-ayat tersebut berkaitan dengan hawariyyun, salah satu kelompok yang beriman dan setia Nabi Isa AS. Dakwah yang dilakukan Nabi Isa dalam catatan sejarah ternyata memiliki tantangan yang luar biasa dari Bani Israil -sebagaimana juga dialami oleh para nabi dan rasul lainnya. Tantangan sangat beragam, dari mulai diejek, ancaman diusir hingga teror pembunuhan.

Tapi, kelompok hawariyyulah tetap setia beriman pada Nabi Isa AS, bahkan selalu berada di garis terdepan sebagai penolong (Ansor) dakwahnya. Karena itu, kaitan dengan hawariyyulah, kutipan ini layak menjadi perhatian:

الحواريون: أصحاب النبي عيسى، وتلاميذه المخلصون ، وأنصاره الذين قاموا يبشرون بدعوته من بعده.

Artinya: Hawariyyun adalah teman, murid sekaligus para penolong Nabi Isa AS yang selalu tegak lurus dan bangga dalam gerak juang dakwah Nabi Isa As.

Patuh NU; Patuh Ulama

Dari penjelasan kaitan dengan kata Ansor, maka pada momentum Harlah ke-87 GP Ansor, satu hal yang tidak bisa ditinggalkan. Bahwa Ansor harus tetap berada dalam basis juang ideologis para ulama NU sebagai induk organisasi sebab para kader hari ini pada saatnya akan menjadi penerus estafet perjuangan jamiyah.

Jika militansi ber-NU harus sejalan dengan tiga pilar, baik harakah, fikrah dan amaliah, maka militansi kader GP Ansor dengan argumentasi patuh pada NU -sekaligus benteng ulama- tidak boleh bertentangan dengan tiga pilar tersebut. Maksudnya, pertama dalam harakah, apapun yang dilakukan GP Ansor harus berada sesuai dengan jalur gerakan NU.

Artinya, jangan sampai ada kader yang mengaku bagian dari GP Ansor lantas bertentangan dengan gerakan NU, apalagi yang menyangkut prinsip gerakan. Ini penting, agar kader GP Ansor tidak mudah diadu domba oleh pihak lain yang notabene berlawan dengan NU, apalagi hanya kepentingan pragmatis sesaat.

Kedua, dalam konteks fikrah, kader-kader GP Ansor harus konsisten mengikuti pola pikir NU dalam membumikan nilai-nilai dakwah pada konsep tasamuh (toleran), tawassuth (moderat), tawazun (seimbang) dan ‘adalah (adil). Tidak pantas ada kader yang mengaku bagian dari GP Ansor, tapi dalam bertindak selalu menggunakan kekerasan dan absen dari upaya membangun dialog yang lebih humanis.

Karenanya, tiga prinsip persaudaraan sebagaimana pernah disampai KH Ahmad Shidiq. Yakni persaudaraan Islam (ukhuwah islamiyah), persaudaraan sesama manusia (ukhuwah basyariyah) dan persaudaraan sesama bangsa (ukhuwah wathaniyah), layak menjadi basis nilai ketika berinteraksi dengan orang lain dalam bingkai Islam dan kebangsaan.

Ketiga, dalam konteks amaliah, kader GP Ansor tidak boleh bergeser sedikit pun, apalagi bertentangan dengan ideologi Aswaja al-Nahdliyah sebagaimana dipahami kiai NU. Militansi kader diukur sejauh mana nilai Aswaja menjadi standar amaliah dalam praktik keseharian, sekaligus mampu melestarikan dan menjaganya dari serangan pihak lain.

Karenanya, konsistensi pada tiga pilar di atas menjadikan GP Ansor akan betul-betul menjadi benteng ulama. Dengan mempertaruhkan segala pikiran dan tenaga –bahkan nyawa- untuk  melestarikan dan menjaga perjuangan NU dan apapun yang berkaitan dengan NU dan ulamanya. Kesetiaan dan keikhlasan GP Ansor ini layaknya para hawariyyun,  yang selalu setia menjadi penolong Nabi Isa AS dalam setiap dakwahnya.  Semoga GP Ansor terus istikamah di usinya yang ke 87.

Penulis : Wasid Mansyur
Wakil Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Timur.