Cinta Sampai Akhir Hayat Gus Dur dan Sinta

0
11

Kondisi kesehatan Gus Dur menurun drastis. Sinta dan putri-putrinya tetap setia menemani Gus Dur yang tengah berbaring di rumah sakit RSCM itu. Dalam keadaan yang seperti itu, Gus Dur tampak tetap tegar, tetap tabah, tetap pasrah.

Pak Acun, sang asisten setia, tampak selalu hilir mudik melaksanakan perintah-perintah Gus Dur. Lelaki tua yang tak pernah melepaskan pecinya itu, terkadang diminta Gus Dur untuk mengambilkan buku-buku dan kitab-kitab kuningnya di rumah, untuk dibawa ke sini, terkadang pula diminta untuk bertemu dengan orang itu atau orang ini.

Ketika Sinta merasa kelelahan, Pak Acun lah yang menggantikan peran Sinta untuk membacakan buku-buku di dekat pembaringan Gus Dur. Begitu Pak Acun kelelahan, dan anak-anak tengan keluar untuk mengerjakan tugas masing-masing, Sinta yang selalu duduk di atas kursi roda itu, memutar roda-roda kursinya, merapatkan tubuhnya ke pembaringan sang suami.

Kini, di ruangan itu, tinggalkan Gus Dur dan Sinta. Jiwa Sinta yang selalu dipenuhi cinta dan kerinduan itu, mengalirkan kepedihan dan menumpahkan air mata. Ia sorongkan tubuhnya ke dada suaminya. Ia peluk tubuh suaminya itu dengan kedua tangannya yang gemetaran.

“Kau jangan sedih, istriku. Janganlah bersedih…”

Sinta terus terisak. Ujarnya: “Bagaimana aku tak bersedih, sementara kau berbaring seperti ini. Maut tidak akan bisa memisahkan kita.”

“Maut tidak akan memisahkan kita. Kita hanya berpisah sementara saja.”

“Aku tidak mau, suamiku. Aku tidak mau. Bagaimana aku akan hidup jika kau meninggalkanku? Bagaimana aku bisa kuat, sementara tongkat hidupku akan patah?”

“Aku masih di sini. Kita masih bisa bersama. Kau tetap cantik, seperti pertama kali kumelihatmu di kelas itu…”

“Kau pun tetap gagah, mas. masih terngiang di benakku lagu Gugur Bunga yang kau nyanyikan itu…”

“Kita adalah pelangi di langit….”

“Pelangi tercipta karena hujan dan matahari. Bagaimana mungkin muncul pelangi jika matahari tak ada, dan yang tersisa hanya hujan belaka? Kau matahariku. Akulah hujanmu. Pelangi ada karena kita berdua ada. Aku tak mau kau tinggalkan, wahai suamiku…”

“Ke sinilah, biarkan aku mengecup keningmu…”

Dengan sekuat tenaga, melawan kedua kakinya yang tak bisa dijejakkan, Sinta menyorongkan tubuhnya. Menyorongkan keningnya untuk dikecup sang suami tercinta. Lalu ia mencium kening sang suami hingga air matanya jatuh di kening suami tercinta.

Setelah dengan susah payah saling berganti mengecup kening dan berengkuhan, kedua ubun-ubunnya sama-sama basah oleh air mata, dan seakan hujan tercipta dari kedua pasang mata itu dengan lebatnya. Lalu Gus Dur mengatakan sesuatu.

“Sinta, maukah kau beri aku pemandangan yang terindah di dunia?” Ujarnya dengan terbata dan gemetaran di pembaringan.

“Apa…itu, Mas Dur?” Jawab sinta tak kalah terbatanya.

“Jika nanti saatnya aku memejamkan mata dan dimakamkan, tak boleh ada air mata yang meluap dan basah di pipimu lagi?”

Di salah satu sudut kamar RSCM itu sebagai saksi, sepanjang malam ada sepasang kekasih yang dua pasang matanya terus basah oleh air mata, tetapi kedua bibirnya sekuat tenaga saling menunjukkan untuk tersenyum dan mengenang sesuatu yang indah ketika masa muda. Demikianlah, telah tercipta hujan, telah tercipta matahari, maka lahirlah pelangi yang begitu menawan sebagai sebuah kisah.

***

Rombongan itu pun mulai bergerak meninggalkan makam Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Beberapa asisten pribadi Gus Dur dan Sinta membisikkan tentang kesehatan mereka.

“Bapak, ibu, mari kita pulang… Sudah saatnya minum obat dan istirahat…”

Sinta dan Gus Dur yang mendapat nasihat itu tersenyum. Mereka sama-sama melepas pegangan tangan yang sedari tadi tampak erat dan mesra.

“Suamiku, aku mencintaimu,” bisik Sinta di telinga Gus Dur

.

“Aku juga, Dik Sinta. Maut takkan pernah memisahkan kita selamanya..”

Mereka berdua saling tatap dengan pandangan mata yang penuh cinta dan kemesraan.

Dua kursi roda itu pun didorong oleh asisten masing-masing.

Rombongan segera meninggalkan petilasan Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Di sepanjang perjalanan, Sinta dan Gus yang duduk di tempat terpisah sesekali saling pandang. Saling melempar senyuman. Lalu tangan mereka berpegangan. Erat dan erat sekali.

“Hidup adalah waktu. Ketika waktu ingin menghentikan hidup maka berakhirlah hidup manusia. Tetapi, cinta jauh lebih abadi daripada ruang dan waktu. Dunia ini beserta isinya tercipta oleh cinta, dan dari rahim cinta itulah jagad semesta ini terlahir.” Ucap Gus Dur.

Sinta hanya diam menunggu kata-kata suaminya selanjutnya.

“Ketahuilah, Dik Sinta. Di dalam cintaku ada namamu. Namamu itulah yang akan abadi melebihi waktu. Mungkin orang-orang kebanyakan menilai, kita saling jatuh cinta hanya di dunia ini. Padahal cinta kita abadi. Sebelum kita lahir ke dunia dan setelah kita mati meninggalkan dunia, kita sejatinya telah berdua. Bersama-sama. Kita adalah sepasang jiwa yang berasal dari satu jiwa. Tuhan menciptakan kita dari jiwa yang sama, kemudian jiwa yang satu itu dipecah oleh Tuhan dan kita dipertemukan lagi di dunia ini. Kelak, di akhirat, jiwa kita akan kembali bersatu.”

“Suamiku, Mas Dur, sebegitu dalamkah cintamu padaku?”

“Betul, Dik. Cintaku padamu melebihi batas kemampuan kosa kata. Cintaku lebih suci daripada waktu. Cintaku lebih nyata daripada ruang. Cintaku padamu, Dik Sinta, lebih abadi daripada ruang dan waktu. Sebab cintaku padamu lahir dari kasih dan sayang Allah. Yang Maha Abadi. Cintaku padamu sejak dulu hingga hari ini, atas nama Allah. Tuhan Yang Maha Cinta dan Maha Mencintai.”

Mobil terus melaju kencang. Menuju Jakarta.

Para rombongan peziarah itu harus kembali kepada realitas sehari-hari, dan bertanggung jawab menjaga kesehatan Gus Dur, mantan Presiden RI, dan istrinya, Sinta Nuriyah.