Cerita Gus Dur Naik Lori saat Ngaji ke Kiai Fattah

0
26

Di dunia ini ada banyak jenis waliyullah. Salah satunya yaitu wali dalam bidang pendidikan. Selama ini wali itu dianggap seorang yang sakti dan bisa mengobati, padahal tidak.

Salah satu wali tersebut adalah KH Abdul Fattah Hasyim dari Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Kiai Fattah merupakan menantu dari KH Bisri Syansuri.

Kewalian Kiai Fattah terlihat saat KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mondok di rumah Kiai Fattah. Ibu kandung Gus Dur yang bernama Siti Sholehah merupakan saudara kandung dari istri Kiai Fattah, Nyai Musyarofah.

Saat usia Gus Dur mulai beranjak remaja, ia dititipkan oleh ayahnya KH Abdul Wahid Hasyim ke Kiai Fattah di Tambakberas untuk belajar ilmu agama.

“Kiai Fattah itu orangnya sangat ikhlas dan sabar dalam mendidik santri. Salah satu santrinya yaitu Gus Dur,” kata KH Yahya Cholil Staquf.

Di awal-awal mondok, Gus Dur belum merasa betah sehingga supaya tidak merasa kesepian ia dicarikan teman oleh Mbah Fattah. Teman bermain Gus Dur itu bernama Khudori dari Kabupaten Banyuwangi. Setiap hari, dua santri ini ke mana-mana selalu bersama, termasuk saat mengaji kitab kuning.

Suatu hari ulama yang biasa disapa Mbah Fattah ini dalam keadaan lelah dan mengantuk, namun karena ada jadwal ngaji di hadapan para santrinya, Mbah Fattah tetap berangkat mengisi pengajian. Dalam kondisi yang mengantuk, Mbah Fattah akhirnya tertidur pulas saat mengajar.

Semua santri yang hadir saat itu tidak berani membangunkan Mbah Fattah, namun juga tidak keluar dari ruangan. Tapi hal ini tidak berlaku pada Gus Dur. Saat Mbah Fattah tidur, tiba-tiba di depan pondok lewat lori (angkutan seperti kereta api pembawa tebu) menuju Cukir. Gus Dur lalu mengajak Khudori mengejar lori dan naik ke atasnya hingga sampai di pabrik gula Cukir.

Setelah sampai di Cukir, kedua santri ini balik lagi ke Tambakberas menaiki lori. Lalu kembali duduk dalam forum pengajian Kiai Fattah.

Baru saja dua santri itu duduk, tiba-tiba Mbah Fattah bangun dan menanyakan pelajarannya sampai di mana. Tanpa merasa bersalah, Khudori langsung menjawab kalau dari Cukir, Kecamatan Diwek.

“Sampai mana tadi cung?”

“Sampai Cukir Mbah”

Kalau bukan wali, mana bisa sesabar itu mendengar jawaban santri.