Ber-NU Sebab Amanah Maha Guru

KH. Masbuhin Faqih merupakan salah satu kiai kharismatik di Jawa Timur. Pengasuh pondok pesantren Mamba’us Sholihin tersebut merupakan sosok kiai yang masyhur dengan laku tawadhu’-nya. Saya bersyukur dapat menimba ilmu secara langsung kepada beliau serta mencecap keberkahan ilmu di pesantren yang didoakan oleh Almaghfurlah Kiai Utsman Al-Ishaqi sebagai sumbernya orang yang sholih.

Diusianya yang semakin udzur tak mengurangi semangatnya sedikitpun untuk istiqomah mengajar ngaji pada santri-santri beliau yang jumlahnya ribuan. Santri-santri beliau pun tersebar di saentero Indonesia. Ragam profesi dari Pejabat negara, petani, guru, pengusaha dll semuanya ada, namun satu hal yang sama yakni semuanya menjadi warga Nahdliyin baik struktural maupun kultural. Belaiu selalu mewanti-wanti pada para santri dan alumni agar jangan sampai meninggalkan ajaran Ahlussunnah wal jama’ah An-nahdliyah. Sebab aqidah merupakan sumber keselamatan duniawi dan ukhrowi.

Keta’diman beliau pada guru-gurunya begitu luar biasa yang menjadikan santrinya sangat ta’dim pada beliau.Diceritakan semasa beliau nyantri di Langitan, tak pernah sekalipun berani lewat di depan rumah kiai Abdul Hadi Zahid sebagai wujud ta’dzim pada kiai. Sampai hari ini pun, jika khaul masayikh Langitan beliau tak pernah mau duduk di panggung sebagai tamu agung. Beliau selalu memilih duduk di bawah bersama para santri dan alumni yang lain.

Khidmahnya pada kiai dan habaib juga luar biasa, beliau selalu meletakkan akhlaqul karimah lebih tinggi derajatnya ketimbang ilmu pengetahuan. Saat Yaman dilanda konflik, Habib Baharun selaku rektor menawarkan pada pesantren di Indonesia yang siap menampung mahasiswa universitas Al-Ahqof untuk dipindahkan belajar di pesantrenya. Sang Kiai dengan senang hati bersedia menampung dan menerima tawaran dari Habib Baharun. Sungguh kecintaanya pada ahlul bait begitu luar biasa, terlebih negara Yaman merupakan negara para wali 9 yang jasanya dalam islamisasi dan meletakkan pondasi Aswaja di nusantara sangat besar.

Kini diusia ke-71, beliau masih dengan ikhlas berkhidmah pada Nahdlatul Ulama dengan menjadi syuriah PCNU Kabupaten Gresik. Kecintaanya pada Ahlussunnah sebagai Aqidah dan Nahdlatul Ulama sebagai jam’iyah tidak bisa diragukan lagi.

Pada kesempatan saat saya sowan, beliau berpesan “Jangan Sampai meninggalkan Ahlussunnah wal jama’ah, bila ingin dikumpulkan denganku dan para ulama’ di akherat kelak,” hal tersebut yang membuat saya dan keluarga sampai hari ini tetap bangga dan berkhidmah pada Nahdlatul Ulama. Sebab NU bagi saya bukan sekedar Aqidah, Manhaj, Tarekat dan Siyasah  melainkan wasilah ‘gandolan’  kepada para alim ulama’, para sahabat hingga rasulullah SAW.

Sepertihalnya Sang Kiai yang selalu ta’dim dan menurut pada guru-gurunya. Demi amanah maha Guru saya berikrar hingga anak cucu akan setia berkhidmah di Nahdlatul Ulama baik secara jama’ah maupun jam’iyah. Selamat harlah NU, 93 tahun mengabdi untuk Agama dan Bangsa.

KH. Masbuhin Faqih merupakan salah satu kiai kharismatik di Jawa Timur. Pengasuh pondok pesantren Mamba’us Sholihin tersebut merupakan sosok kiai yang masyhur dengan laku tawadhu’-nya. Saya bersyukur dapat menimba ilmu secara langsung kepada beliau serta mencecap keberkahan ilmu di pesantren yang didoakan oleh Almaghfurlah Kiai Utsman Al-Ishaqi sebagai sumbernya orang yang sholih.

Diusianya yang semakin udzur tak mengurangi semangatnya sedikitpun untuk istiqomah mengajar ngaji pada santri-santri beliau yang jumlahnya ribuan. Santri-santri beliau pun tersebar di saentero Indonesia. Ragam profesi dari Pejabat negara, petani, guru, pengusaha dll semuanya ada, namun satu hal yang sama yakni semuanya menjadi warga Nahdliyin baik struktural maupun kultural. Belaiu selalu mewanti-wanti pada para santri dan alumni agar jangan sampai meninggalkan ajaran Ahlussunnah wal jama’ah An-nahdliyah. Sebab aqidah merupakan sumber keselamatan duniawi dan ukhrowi.

Keta’diman beliau pada guru-gurunya begitu luar biasa yang menjadikan santrinya sangat ta’dim pada beliau.Diceritakan semasa beliau nyantri di Langitan, tak pernah sekalipun berani lewat di depan rumah kiai Abdul Hadi Zahid sebagai wujud ta’dzim pada kiai. Sampai hari ini pun, jika khaul masayikh Langitan beliau tak pernah mau duduk di panggung sebagai tamu agung. Beliau selalu memilih duduk di bawah bersama para santri dan alumni yang lain.

Khidmahnya pada kiai dan habaib juga luar biasa, beliau selalu meletakkan akhlaqul karimah lebih tinggi derajatnya ketimbang ilmu pengetahuan. Saat Yaman dilanda konflik, Habib Baharun selaku rektor menawarkan pada pesantren di Indonesia yang siap menampung mahasiswa universitas Al-Ahqof untuk dipindahkan belajar di pesantrenya. Sang Kiai dengan senang hati bersedia menampung dan menerima tawaran dari Habib Baharun. Sungguh kecintaanya pada ahlul bait begitu luar biasa, terlebih negara Yaman merupakan negara para wali 9 yang jasanya dalam islamisasi dan meletakkan pondasi Aswaja di nusantara sangat besar.

Kini diusia ke-71, beliau masih dengan ikhlas berkhidmah pada Nahdlatul Ulama dengan menjadi syuriah PCNU Kabupaten Gresik. Kecintaanya pada Ahlussunnah sebagai Aqidah dan Nahdlatul Ulama sebagai jam’iyah tidak bisa diragukan lagi.

Pada kesempatan saat saya sowan, beliau berpesan “Jangan Sampai meninggalkan Ahlussunnah wal jama’ah, bila ingin dikumpulkan denganku dan para ulama’ di akherat kelak,” hal tersebut yang membuat saya dan keluarga sampai hari ini tetap bangga dan berkhidmah pada Nahdlatul Ulama. Sebab NU bagi saya bukan sekedar Aqidah, Manhaj, Tarekat dan Siyasah  melainkan wasilah ‘gandolan’  kepada para alim ulama’, para sahabat hingga rasulullah SAW.

Sepertihalnya Sang Kiai yang selalu ta’dim dan menurut pada guru-gurunya. Demi amanah maha Guru saya berikrar hingga anak cucu akan setia berkhidmah di Nahdlatul Ulama baik secara jama’ah maupun jam’iyah. Selamat harlah NU, 93 tahun mengabdi untuk Agama dan Bangsa.

Tabik,  Abdur Rouf Hanif
Ketua Lakpesdam PCNU Tanggamus

(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *